

Membaca berita-berita tentang dampak usaha pen-steril-an jalur busway yang dimulai lagi sejak kemarin mengingatkan saya pada perjalanan saya hari Rabu lalu. Kebiasaan saya, bila pulang agak malam, saya cenderung untuk menggunakan TiJe koridor II. Melewati halte Cempaka Timur, menjelang perempatan Cempaka Mas, bus TiJe yang saya gunakan, tiba-tiba berguncang dengan keras, oleng kekanan, kemudian oleng kekiri dan oleng kekanan lagi beberapa kali, sampai akhirnya bisa meluncur dengan tenang lagi mendekati lampu lalin yang berwarna hijau. Bermacam komentar yang keluar dari pengguna di dalam bus yang merasakan guncangan yang cukup keras tersebut. Ada yang mengingatkan pramudi untuk lebih berhati-hati, ada pula yang mengumpat pemerintah karena kondisi jalur dan jalanan di Jakarta yang banyak berlubang. Keluhan-keluhan tersebut dapat saya maklumi karena pengguna merasa seperti dalam suatu pendulum; terombang-ambing di dalamnya. Sebentar kekanan, sebentar kekiri.
Ketika beberapa koridor terakhir (kor IV sampai kor VII) diluncurkan, banyak pengguna (eg. kor VI) meninggalkan kendaraan pribadinya (motor, mobil) dan beralih ke TiJe. Bus yang baru, bagus, bersih, nyaman, cepat, pramudi yang wanita cantik/yang pria gagah, banyak pengguna orang kantoran, mahasiswa/i, sangat menarik sebagai alternatif alat transportasi menuju tempat beraktifitas. Walau tidak semua jalan yang dilalui koridor busway, bebas dari kepadatan samasekali, tapi masyarakat mulai melirik dan berpikir untuk bisa beralih menggunakan TiJe. Alhasil, walau tetap padat, tapi kepadatan lalulintas di jalur reguler relatif berkurang. (Setidaknya sama dengan jumlah kendaraan yang diparkir di tempat penitipan kendaraan atau di garasi rumah).
Bila saja saat itu perencana dan pengambil keputusan jeli mengamati gejala tersebut, momentum tersebut seharusnya ditumbuhkan dengan memperbaiki kualitas layanan, sehingga semakin banyak masyarakat yang beralih menggunakan moda transportasi umum ini dan semakin lancar pula jalur reguler. Semakin nyaman pula hidup kita. .
Tapi yang terjadi beberapa bulan ini adalah anticlimac. Semuanya meluncur ke arah yang negatif, sehingga semuanya menderita. Waktu tempuh pengguna jadi molor jauh; pengguna terpaksa beralih kembali ke kendaraan pribadi; BLU berkurang pendapatan dari ticket; polantas menjadi lebih tertekan menghadapi kekusutan dimana-mana; pengguna jalur reguler juga menjadi tambah frustasi, di tengah kepadatan yang bertambah, karena kembalinya kendaraan-kendaraan pribadi pengguna TiJe. (Belum lagi ditambah dengan mobil-mobil baru).
Kemarin pendulum berayun kearah positif lagi. Yang diperlukan untuk mengatasi situasi seperti ini memang keputusan politik/policy seperti itulah. Semua pihak (eksekutif, legislatif, penegak hukum, masyarakat etc) harus mengupayakan agar masyarakat secara umum dapat memperoleh layanan transportasi yang baik dan effisien. Bukan hanya untuk kepentingan sempit jangka pendek.
Petugas, pastikanlah jalur TiJe steril dan lancar, supaya pelayanan maksimal. BLU, sediakanlah sarana yang cukup supaya pengguna nyaman. Pengguna TiJe tinggalkanlah kembali kendaraan pribadi kita supaya pengguna kendaraan pribadi di jalur reguler bisa lebih lancar. Pengguna kendaraan pribadi (karena alas tertentu), dukunglah dan bantulah masyarakat umum untuk menggunakan moda transportasi masal supaya jalanan lebih longgar dan petugaspun lebih kecil bebannya etc.
Kalau kita semua mempunyai visi yang sama, tentu kenyaman bertransportasi akan bisa kita rasakan. Karena terombang-ambing di kebijakan yang sering berubah arah telah menjadikan kita lelah dan tidak produktif. Marilah kita bergerak secara konsisten ke arah yang lebih baik.
Salam (030708dc)
pendulum ..
Yup, tapi bukan di koridor 2 saja q rasa, namun hampir di suma koridor punya masalah unik begini.
Post new comment