

Adanya dua buah pintu masuk antrian tiket di halte Pulo Gadung (PG) kembali 'memakan korban'. Tadi pagi sekitar pukul 8.45, seorang laki-laki tinggi besar membawa tiket yang sudah disobek ke pintu tiket PG-DukuhAtas. Rupanya orang tersebut sebelumnya sudah mengantri di pintu tiket PG-Harmoni dan ternyata salah. Oleh petugas, tiket yang tersobek itu dinyatakan tidak valid dan diharuskan untuk membeli lagi tiketnya. Calon penumpang tersebut berargumen bahwa ada kamera pengintai, silakan dicek, dan silakan tanya petugas pintu tiket PG-Harmoni, tetapi tetap tidak diperbolehkan masuk.
Adanya dua pintu ini mungkin bagi sebagian calon penumpang yang kurang sering menggunakan Tije agak membingungkan, harus beli tiket di pintu yang mana? Mungkinkah nantinya pintu tiket disatukan, dan line antrian kemudian dipisah, sehingga tidak ada lagi kesalahan semacam ini? Atau mungkin keterangan koridor tujuan lebih diperbesar dan diperjelas.
Pada akhirnya calon penumpang tersebut nampaknya naik lewat pintu PG-Harmoni dan kemudian transit dan menyambung bus di suatu tempat. Salut untuk petugas yang sudah bersikap tegas.
Namun yang membuat suasana jadi agak panas adalah, rupanya ada seorang pria berbaju hijau, bertopi hijau, berjaket loreng beretuliskan Aka*ri Dar*t, dan berkumis tipis. Ia keluar dari antrian dalam ,dan mencoba membela si calon penumpang yang keliru membeli tiket tadi, dengan memojokkan si petugas. Suaranya lumayan keras, dan argumennya lumayan norak. Katanya, peraturan mana yang nggak bisa dirubah? UUD saja bisa dirubah? Peraturan Pemda itu jauh dibawah UUD. Kamu baru anak kemarin sore saja sudah sok pintar. Kamu gobl*k tapi ngaku2 sok pintar. Saya juga punya ponakan jadi petugas busway, saya bilangin sama dia, kalau bertugas jangan terlalu kaku (maksut loe??). Kurang lebih seperti itu.
Sempat juga si oknum 'menepuk' bahu petugas, tapi dengan kekuatan skala Aka*ri. Weh, skala 1 nya dia = skala 5 nya orang biasa. Lumayan sakit kayaknya tuh. Akhirnya beberapa petugas lain berbaju batik dan safari terlihat menghampiri, dan memberikan pengertian kepada calon penumpang. Sementara oknum berbaju hijau terlihat tidak terlalu digubris karena khawatir meledak.
Geleng-geleng-geleng kepala.
Post new comment