Permen Karet
Sen, 01/26/2009 - 07:08 — david_chyn
Kebetulan karena hanya ada satu kursi yang tersisa, maka seorang pemuda duduk dekat seorang wulan (wanita usia lanjut, nenek). Kebetulan juga tujuan perjalanan mereka sama. Maka begitu mereka sampai di halte DukuAtas, merekapun turun bersamaan. Sebelum mereka meninggalkan bus, si nenek berkata pada pemuda tersebut: "Nak, terima kasih ya. Sudah mau mengajak nenek bercakap-cakap". Si pemuda sedikit kaget. "Nek, saya tidak bercakap-cakap dengan nenek!. Saya sedang mengunyah permen karet!" katanya sambil menunjuk mulutnya. "Oh, maaf ya nak, nenek tidak tahu kalau kamu lagi sariawan. Nenek sudah kurang pendengarannya". " !@#$%^&* ",sang pemuda kehabisan kata-kata.
Pesirtiwa tersebut, bagi kita, mungkin cukup menggelikan, tapi tidak bagi pemuda tersebut. Gara-gara mengunyah permen karet, malahan dia dikira iseng mengajak bicara nenek-nenek. Mengunyah telah membuat ulah. Permen karetnya menjadikannya masalah.
Permen-permen karet juga telah menjadi masalah di halte DukuhAtas dan mungkin juga tempat-tempat lain.
Dalam rangka memperingati lima tahun beroperasinya busway, dalam acara ’Bersih Bersih Halte Busway’, suatu acara untuk menumbuhkan kesadaran akan budaya bersih, beberapa kelompok masyarakat pecinta dan pengguna buswaypun terlibat dalam acara tersebut. Kelompok kelompok tersebut bergotong royong membersihkan beberapa halte yang berada di koridor I. Komunitas Pengguna TransJakarta, diberi kesempatan untuk membersihkan halte DukuhAtas. Sebenarnya halte dan SWPA di sana tidak terlalu kotor karena ada petugas yang membersihkannya secara rutin. Tapi sesuai dengan tujuan acara yaitu untuk menumbuhkan budaya bersih, maka dengan berbekal perlengkapan yang disediakan panitia, anggota komunitaspun mulai membersihkan tempat tersebut. Saat itu komunitas bisa belajar dengan melihat akan banyaknya hal-hal yang perlu dibenahi; mulai dari ruang tiketing yang terkesan berantakan, mesin tiketing yang tidak berfungsi, tempelan informasi yang terkesan seadanya, pintu anjungan yang mulai rusak, pagar pembatas yang lepas, atap yang hilang dan (ini yang sesuai dengan judul tulisan) banyaknya sisa permen karet yang tercecer di lantai, baik di dalam halte, maupun / terutama sepanjang SWPA yang menghubungkan halte DukuAtas1 dan DukuAtas 2.
Sisa-sisa permen karet tersebut kebanyakan telah kering dan telah melekat pada lantai. Sisa permen karet itu sangat menggangu pemandangan, telah membuat kotor dan membuat noda hitam yang sulit dibersihkan. Perlu alat pengerok khusus untuk lepaskan kotoran tesebut. Perlu sikat dan cairan pembersih khusus untuk menghilangkan noda hitamnya. Dan diperlukan waktu yang cukup lama untuk membersihkan satu (dari beratus-ratus) kotoran sisa permen karet tersebut. Sedangkan untuk membuatnya, cukup dengan sekali meludahkannya dari mulut jorok para pengunyah permen karet. Dan pengunyah jorok tersebut jumlahnya tidak sedikit. Ini terlihat dari banyaknya ceceran sisa permen karet yang melekat; yang rata-rata lima atau enam ceceran setiap potong lantai bahkan beberapa meter keluar dari halte jumlahnya lebih banyak lagi.
Bisakah para pengunyah permen karet tersebut ikut menjaga kebersihan? Misalkan dengan membungkus sisa permen tersebut dengan bekas bungkusnya dan membuangnya pada tempat sampah yang sesuai yang telah disediakan?.
Ataukah kita harus melarang orang mengunyah permen karet di tempat umum (atau setidaknya di busway), seperti di Singapura?.
Mari kita jadikan lingkungan kita menjadi lingkungan yang bersih, setidaknya bersih dari ceceran sisa permen karet.
Jangan biarkan ada kotoran yang melekat, apalagi melekat dalam kehidupan kita.
Salam (012609dc)
- Blog david_chyn
- 1211 kali dibaca


