Ulasan koridor 8 setelah 3 bulan beroperasi
Sel, 05/26/2009 - 23:19 — Wibo
Koridor 8 sudah beroperasi 3 bulan. Walaupun koridor ini masih belum beroperasi penuh dan baru melayani rute Lebak Bulus sampai Tomang Taman Anggrek, ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari beroperasinya koridor ini.
Belum beroperasinya koridor 8-10 selama setahun lebih membuat jalur busway di ketiga koridor tersebut boleh bebas dipakai. Kebiasaan ini ternyata sulit dihilangkan dan terlihat dari sangat seringnya jalur busway koridor 8 diserobot mulai dari Pondok Indah sampai RS Tarakan. Oleh karena itu, headway koridor 8 menjadi sangat parah sewaktu peak hour, kondisinya sudah hampir menyamai koridor 3.
Selain faktor kebiasaan, bentuk separator di jalur busway koridor 8-10 yang berbeda dengan koridor 1-7 juga menjadi salah satu penyebab jebolnya pertahanan jalur busway. Separator di ketiga koridor baru ini dapat dibagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah separator model tempel yang hanya ditempel ke jalan dengan menggunakan paku. Di koridor 8, separator ini bisa dilihat mulai dari Pondok Indah sampai Simprug. Separator ini landai dan sangat rendah, bahkan motor pun bisa melewatinya. Selain itu, separator ini sangat jelek kualitasnya dan mudah hancur. Akibatnya, di ruas ini banyak separator yang bolong dan hanya meninggalkan bekas paku. Jenis kedua adalah separator miring yang sebenarnya ditujukan untuk mengalirkan air dari jalur busway agar tidak menggenang. Di koridor 8, separator ini bisa dilihat mulai dari Permata Hijau sampai Pesing. Separator ini walaupun tinggi, tetapi bentuknya yang miring menyebabkan kendaraan bisa leluasa keluar masuk jalur busway tanpa harus kuatir mentok bagian bawah kendaraan.
Koridor 8 juga memiliki ruas mixed traffic yang cukup panjang mulai dari terminal Lebak Bulus sampai Pondok Indah Mall. Sering sekali perjalanan bis terhambat terutama akibat bottleneck di Bunderan Pondok Indah. Seharusnya di ruas ini dibuat separator, tidak ada lagi alasan bahwa jalur busway mengakibatkan kemacetan di daerah ini. Jalur yang tadinya hanya 2 jalur telah diperlebar menjadi 3 jalur, tetapi masih saja terjadi kemacetan walaupun jalur busway boleh dipakai kendaraan lain. Hal ini bisa menjadi bukti bahwa penyebab kemacetan di Jakarta bukan karena diambilnya jalur reguler menjadi jalur busway, tetapi karena pertambahan volume kendaraan yang sangat cepat.
Dengan faktor-faktor tersebut ditambah dengan jarangnya penjagaan jalur busway di koridor 8 membuat kondisi koridor 8 bertambah buruk. Bahkan hal ini berdampak ke jumlah penumpang, koridor 8 merupakan koridor dengan jumlah penumpang per hari paling rendah dari semua koridor. Oleh karena itu, mutlak dilakukan kerjasama dengan Polantas dan Dishub dalam menjaga jalur busway. Kerjasama dalam menjaga jalur busway ini sudah terbukti sangat efektif, contohnya di koridor 6, mulai dari Mampang sampai Deptan.
Sebanyak 25 armada dioperasikan di koridor 8 oleh operator PP dan LRN. Jumlah ini memang masih jauh dari ideal, karena koridor 8 memang belum memiliki operator ‘resmi’. Armada-armada tersebut juga sebenarnya diperuntukkan sebagai tambahan armada bagi koridor 4-7. Tetapi jika dilihat diluar dari peak hour, headway koridor 8 terbilang sangat baik walaupun dengan armada yang seadanya. Koridor 8 juga ‘terbantu’ dari jumlah penumpang yang tergolong sedikit, disebabkan penumpang sulit mencapai pusat kota dengan koridor 8 sebelum koridor 11 (Blok M-Ciledug) beroperasi.
Pengoperasian koridor 8 yang hanya mencapai Tomang Taman Anggrek mengharuskan adanya pengalihan rute alternatif Pulogadung-Kalideres melalui Tomang agar tiga halte yang belum dilalui koridor 8 bisa dioperasikan. Hal ini berdampak besar ke koridor 3, terutama bagi penumpang yang naik dari Harmoni.
Sebelumnya, rute Pulogadung-Kalideres akan melewati Harmoni baik yang mengarah ke Pulogadung maupun Kalideres, jadi rute ini dapat membantu mengurangi antrian penumpang di pintu Pulogadung maupun Kalideres. Sekarang, rute ini hanya melewati Harmoni sewaktu mengarah ke Pulogadung, sedangkan arah ke Kalideres tidak melewati Harmoni, melainkan langsung ke Petojo dari Pecenongan. Akibatnya, penumpukan penumpang di pintu Kalideres pada peak hour sore tidak terhindarkan lagi, karena armada koridor 3 seakan-akan berkurang.
Hal ini mungkin bisa teratasi apabila koridor 8 beroperasi sampai Harmoni, tapi terbatasnya luas halte Harmoni ternyata tidak memungkinkan. Solusi yang dimungkinkan adalah memperluas halte Harmoni, atau menunggu sampai koridor 9 beroperasi. Dengan beroperasinya koridor 9, maka akan bertambah satu titik transfer menuju koridor 3 dan 8 yaitu di Grogol. Hal ini otomatis akan berdampak ke penurunan jumlah penumpang yang transfer di Harmoni, karena saat ini Harmoni merupakan satu-satunya titik transfer menuju koridor 3 dan 8.
Yang terakhir, setiap halte yang dilalui lebih dari satu koridor harus diperluas agar halte tersebut bisa dipakai sebagai halte transfer. Contoh kasusnya adalah halte Indosiar dan Jelambar yang sangat kecil dan hanya memiliki satu pasang pintu, kontras dengan halte-halte koridor 8 lainnya yang memiliki tiga pasang pintu yang disesuaikan untuk armada gandeng. Dengan keadaan ini, maka halte Indosiar dan Jelambar tidak dipakai sebagai halte transfer, dan penumpang dari arah Lebak Bulus menuju ke arah Kalideres ‘dipaksa’ untuk berputar dulu di halte Grogol. Untuk menghindarinya, halte-halte yang nanti akan bersinggungan dengan koridor 9 dan 10 harus diperluas, misalnya halte Cililitan PGC dan lain-lain.
Semoga koridor 8 yang telah beroperasi selama 3 bulan ini dapat memberi pelajaran berharga sebelum koridor 9-10 dioperasikan. Apalagi koridor 9 dan 10 akan melewati dua jalan protokol di Jakarta yang sangat macet, dan Transjakarta hanya dapat ‘berkuasa’ di kedua koridor ini dengan perencanaan yang sangat matang.
-Wibo, 2009.05.26
- Blog Wibo
- 1639 kali dibaca
Komentar
Jum, 05/29/2009 - 15:52 — Guest

Tambahan Saran dan Komentar
Saya hanya ingin menambahkan: sebaiknya disetiap koridor memiliki sekurang-kurangnya satu Pom BBG, jadi tidak ada lagi kejadian tidak mengangkut penumpang karena sedang mengisi BBG.
Sewaktu menaiki busway koridor 8 dihari Minggu beberapa waktu lalu, saat itu sekitar pukul 19:00-an saya sering mendapati busway koridor 8 melewati halte harmoni begitu saja. Di kaca depan tertempel Pengisian BBG. Sebelnya ini sudah 3 busway melewati halte harmoni dengan alasan yang sama. Sehingga saya sudah menunggu sekitar +/- 1 jam hanya untuk diangkut di halte harmoni.
Pernah juga saya menaiki busway koridor 8 di hari Sabtu sore tanggal 23 Mei 2009, setelah menunggu sekitar 30 menit di halte harmoni. Tetapi kemudian diturunkan di halte Taman Anggrek, dengan alasan mengisi BBG.. lalu menunggu sekitar 30 menit lagi....
Selain penambahan POM BBG, perlu juga diatur tata lalu lintas di sepanjang koridor 8, saya lihat terlalu banyak U-turn disepanjang jalan.. sebaiknya dikurangi saja itu...
Min, 05/31/2009 - 08:39 — Guest

Saran
Saran aj..
Sbaikny halte jelambar dan indosiar diperluas..
Misal dr satu psg pintu jdi 4 psg pntu. 3 psg yg utk kor 8,dan 1 psg utk kor 3, shg halte tsb bisa digunakan utk transit.
Kan repot,kalau dr lbak bulus maw k kalideres,masa hrs k grogol dulu
Utk harmoni,juga sbaiknya dtambah 2 atau 3 psg pntu lagi utk bus kor 8
Thx
Sen, 06/01/2009 - 11:00 — Guest

Balas saran
Susah kali y klo mesti kayak gitu...
halte yg ada skrg aj gak diurus dg semestiny...
klo mau spt itu sich harusnya jgn cm halte itu aj, yg lain jg....
Min, 05/31/2009 - 17:34 — Guest

Knapa byk pintu halte tak
Knapa byk pintu halte tak tertutup y?
Kn membahayakan juga
Sel, 06/02/2009 - 13:56 — Wibo
Tanggapan: Pintu halte tak tertutup
Hal ini disebabkan karena sikap penumpang yang sering membuka paksa pintu halte ataupun menahan pintu halte dengan kaki agar tidak tertutup. Untuk itu, dimohon bagi para penumpang transjakarta agar saling mengingatkan untuk tidak merusak fasilitas yang terdapat di halte maupun didalam bis.
Rab, 06/03/2009 - 10:12 — Guest

Pintu Halte
Menurut saya memang sangat membahayakan penumpang kalau pintu halte tidak tertutup, apalagi jika jarak dari pintu halte dengan jalan sangat dekat. Tetapi di lain pihak kalau pintu halte tertutup, maka ruang tunggu akan terasa semakin panas dan pengap karena minimnya jumlah kipas angin yang ada dalam halte (ada pula halte yang tidak ada kipas anginnya) dan lubang-lubang angin yang ada kelihatannya tidak terlalu efektif.
Jadi sebenarnya dengan pintu halte yang terbuka akan dapat sedikit mengurangi rasa panas karena adanya aliran udara. Atau kalau keselamatan penumpang memang menjadi perhatian pihak pengelola, sebaiknya jumlah kipas angin ditambah atau dipasang di halte-halte yang tidak ada kipas anginnya sehingga mungkin dengan demikian penumpang tidak akan membuka paksa pintu agar bisa mendapatkan udara segar.
Jum, 06/05/2009 - 07:34 — Guest

Balas tanggapan
bukan gitu juga...
kadang2 klo udah yg namanya halte yg kecil itu penuh bgt, panaaaassssny bukan main....
bayangin aj, orang byk gt ventilasinya kecil2...
apalagi klo lg gak ada angin...
klo bisa sich d pasang kipas angin kyk d halte2 yg baru...
walaupun cm satu tp kn lumayan...
Sab, 06/06/2009 - 16:01 — Wibo
Pintu tidak tertutup
Saya mengerti banget kok masalah ini, karena saya tiap hari juga merasakan panasnya berada di dalam halte yang dipenuhi orang. Makanya di halte transfer, pintu halte sengaja dibuka agar udara mengalir.
Tapi saya juga sering lihat di halte-halte non-transfer, penumpang yang membuka paksa pintu halte, padahal kondisi halte tidak panas dan sumpek, dan pintunya juga tidak rusak. Bahkan ada penumpang yang membuka paksa pintu di halte yang tidak berdinding (Imigrasi, Duren Tiga, Mampang).
Oleh karena itu, hal ini perlu menjadi perhatian kita semua sebagai sesama pengguna traja. Terima kasih.
Sel, 06/09/2009 - 16:12 — Guest

Tanggapan: Pintu Tidak Tertutup
Memang tidak dapat disangkal bahwa kadang-kadang ada orang-orang yang tanpa alasan jelas memaksa membuka pintu dan berdiri di sana sehingga akibatnya dapat merusak kerja pintu tersebut.
Tetapi yang jadi pertanyaan adalah mengapa pihak pengelola SENGAJA membuka pintu halte untuk membiarkan udara mengalir di halte-halte tertentu? Apakah hal tersebut memang diperbolehkan? Bukankah seharusnya pintu halte dibuat untuk menjaga keselamatan penumpang dan hanya dibuka pada saat bus merapat di halte? Jika memang kondisi halte panas dan sesak, sudah seharusnya di halte tersebut dipasang (atau ditambah) jumlah kipas anginnya, dan bukan malah meLEGALkan pintu terbuka.
Sen, 06/01/2009 - 13:52 — Guest

Koridor 2
Td skitar jam 12.. Ad apa yg dgn koridor 2? Nunggu diharmoni sampe 10mnit lbh.. Dan kta ptugas,bus agak lama..
Tumben..
Td TB 061 tidak ad info halte,,pukul 11.30
TB 126 jg, pukul 09.45
Sel, 06/02/2009 - 15:50 — Guest

Jarak bus k halte
Tolong donk jarak pintu bus dgn pntu halte jgn tlalu jauh..
Ini plg sring dtemui d kor 2 dan 3 dibnding kor yg lain
Tx
Sel, 06/02/2009 - 22:49 — Guest

bus koridor 1
saya liat hampir semua bus koridor 1, pegangannya tak beraturan jaraknya. dan tak ada penahannya. akibatnya, bisa digeser-geser, dan bisa membuat penumpang jtuh, karena saat bus mengerem, pegangan tak bisa menahan penumpang karena ikut bergeser.
tolong dong kepada pengelola, agar penahannya dipasang. kan kalau ada penahan seperti di bus koridor lainnya, bisa lebih nyaman..
trms
Rab, 06/03/2009 - 12:31 — Guest

penyejuk udara
memang menurut saya lebih baik disetiap halte ada penyejuk udara seperti kipas angin dengan jumlah memadai, dan mungkin AC.
selama ini yg saya tau, halte yg ada kipas cuma di koridor 8 dan di harmoni. itupun gak berasa anginnya, entah anginnya kurang kenceng, atau emg di luar panas..
Jum, 06/05/2009 - 17:33 — Guest

separator
di koridor 9 separatornya uda diganti ya modelnya..?(yg di jalan beton)
npa di koridor 8 kga diganti"..? yg lebih bagus gituu...
Sab, 06/06/2009 - 10:08 — Guest

Tb 060 saat ini,tdak ada
Tb 060 saat ini,tdak ada audio info haltenya
Tlg dnk kpd TB, disiplinkan pramudi yg ska mls pencet. . Kbykan bus TB yg ska gada audio info haltenya dbndg yg laen
Min, 06/07/2009 - 02:03 — Guest

Pintu halte
Saya jg pnah liat, klau pintu ada tmbol on/offnya di atas. Dan wkt kondisi halte sdg pnuh, petugas yg memencet tombol tsb agar ada udara..
Tp herannya kalo sepi pun,malah terbuka trus..kgak ditu"p lg
Yg sy bngng,ni pntu rusak atau dimatiin,tp gag dinyalain lg.
Ayo qt jgn suka merusak fasilitas yg ada..
Min, 06/07/2009 - 21:35 — Guest

Opt TB
Sy mw ksh taw aja tntg bus"nya TB..
1. Audio announcement info halte SANGAT JARANG dibunyikan. Padahal sgt pnting bgi org yg jarang naek TraJa
2. Mengendarai bus kdg kurang enk, ska ngerem mndadak.. Ska klakson mlulu
3. Sering membuka pintu bus saat bus blm merapat di pintu halte.
4. Pintu bus dan pntu halte suka tdk pas
5. Jarak lngkah pntu bus dan pntu halte JAUH.. Sngt mbahayakan,,aplgi bagi org" lansia.. Sy kdg" suka sdikit ragu utk mlangkah..
6. Tidak mnjaga headway dgn baik. Pdhal d dkt pramudi ada tulisan "jarak antar bus min 50 meter". Tapi sringkali malah mepet2.. Gak kyk JET yg suka jaga jarak
7. Stiker nomer bus suka dilepas. Kesannya takut diaduin.
Mohon segera dibenahi agar playanan yg dberikan smakin maksimal. Jgn maw kalah sama operator2 yg lain.
Trms
Sel, 06/09/2009 - 16:12 — Vita (tidak terverifikasi)

Tanggapan STJ atas operator TB
Coba bantu menjawab walopun saya bukan apa2nya didalam TB, cuman pengguna SETIAnya TB... (saya bukan tim pembela or tim sukses TB ya...)
1. Emang sih kalo ini gw setuju dan gw jg SEBEL banget knp males buanget utk mencet tombol, klo pun bunyi cuman sampe "Pemberhentian selanjutny Halte Pesakih" dah sampe disitu doang... (mungkin pramudi berpikir ga ada penumpang org bule naik TB, padahal sering loh gw lihat org bule naik dari Jelambar sampe HCB). Hal ini dah gw sampekan kpd org TB langsung.
2. Suka ngerem mendadak emang iya soalnya banyak buanget kendaraan lain masuk jalur busway, jalur koridor 3 dari HCB - Kalideres adalah jalur busway yg tidak pernah steril dari kendaraan lain, otomatis sering mengerem mendadak dan membunyikan klakson trz. kadang saat TJ berhenti menurunkan/menaikkan penumpang ada aja motor nyelip sehingga pas TJ maju sering ngerem mendadak.
3. Lagi2 ini jg pernah gw rasakan sehingga membuat penumpang yg berdiri didepan pintu sering tdk aman. entah alasan apa pramudi membuka pintu sebelum berhenti, ini juga pernah gw protes di millist.
4 & 5. Pramudi kurang memperhitungkan kali ya... Emang lagi nih sering terjadi juga apalagi di Halte Grogol 1 dan Halte Sumber Waras, karena ini halte baru. Klo ada jarak antar pintu bus dan pintu halte minta tolong ma onboardnya aja utk bantu nyebrangnya, kadang onboard sering bantuin kok utk ibu hamil,lansia,ank kecil utk menyebrang dari pintu bus ke pintu halte.
6. Hal ini disebabkan banyaknya kendaraan lain khususnya motor yg suka nyelib sembarangan. Klo ga emg jarak TB satu dengan didepanny lagi dekat, karena saat jam2 sibuk TB banyak dikeluarkan kecuali klo macet kesannya TB hilang entah dmn...
7. Emang terkadang gw lihat banyak no. TJ yg tdk tertera di kaca TJ, bahkan gw sampe lihat pas dah keluar dari TJ (lihat dari body depan TJ). Mungkin banyak tangan2 nakal yg mencopotnya.
Gw pernah ngmng dg salah satu operator TJ klo bus mereka dikasih ke koridor 2 ato 3 mereka ga mau karena takut bus mereka hancur gara2 jalur ga steril, penumpang yg aneh2, dll. Gw jg merindukan hal2 baik dari TB karena nih TJ penghantar gw ke tempat gw kerja.
Itu aja yg bisa gw bantu menjawabnya...
Thx
Vita, pengurus STJ, wakil kor3
Sel, 06/09/2009 - 17:31 — Guest

tanggapan utk TB
brarti operator TB ini plg ga bsa dibilangin ya. (kasarnya: BEBAL)
wlaupun mungkin sdh sring dtegor, tp ga ada prubahan yg brarti.
maju trs bwt TJ!
Sel, 06/09/2009 - 17:37 — Guest

pintu halte
wkt itu, wkt pluncuran perdana kor 8. kbetulan sy ada di halte indosiar. penumpang byk yg ingin nyoba kor 8, shg halte indosiar sesak. kemudian petugas menekan suatu tmbol di atas pintu, lalu pintu terbuka dan tdk menutup lg. sy pikir ini benar krn spy halte tdk pengap.
TAPI.. knp kalo sepi, tetep ga ditutup..?
kalopun rusak, ya dibnerin donk.jgn malah didiemin.. gimana sih..???!!!
Sel, 06/09/2009 - 18:09 — Guest

BLU
saya penasaran, apa sih kerjanya BLU tiap hr?
coz sy liat ga ada perkembangan berarti dr TJ.
cthnya halte" yg rusak ga dibetulin, separator yg rusak ga dibetulin, dll
dan yg plg penting adl mengenai tender bus utk kor 9-10. msa dr dlu blgnya cma persiapan? ap jgn" kga dikerjain lg persiapan tendernya..
Sel, 06/23/2009 - 13:44 — Guest

Koridor 7
Ampun dh.. headway koridor 7 msi parah bgt.. Mgkn paling parah dr yg laen. Sy kmrn nunggu di makro sampe 30 menit lho.. Ampun dh! Gmana ni pngaturan bisnya. Yg saya tw koridor 7 bisnya sdh lmyn byk kn?
Sab, 07/25/2009 - 11:03 — Guest

Surat Pelajar...
Saya adalah seorang pelajar pengguna rute Koridor 3 (Kalideres) ke Koridor 8 (Lebak bulus)
Sudah beberapa hari sejak rute "koridor 8 arah Lebak Bulus" diputuskan untuk JUGA tidak berhenti di Indosiar dan Jelambar (seperti yang dari arah Lebak Bulus, langsung ke Grogol).
Hal ini sungguh membuat repot bagi pengguna Kalideres yang mau ke arah Lebak Bulus. Karena kami (bukan saya doang loh...) harus memutar jauh hingga ke Grogol yang jaraknya sekitar 1 km dari Indosiar.
Hari Selasa tanggal 21 Juli, saya transit di Indosiar, ternyata bus yang ke Lebak Bulus TIDAK BERHENTI di Indosiar.
Hari Rabu tanggal 22 Juli, saya langsung pergi ke Grogol, ternyata bus yang ke Lebak Bulus kok MASIH BERHENTI di Indosiar???
Hari Jumat tanggal 24 Juli, saya memutuskan untuk menunggu di Indosiar, ternyata bus TIDAK BERHENTI di Indosiar.
Akhirnya hari itu, tanggal 24 Juli (kemaren), saya menanyakan ke petugas ticketing di Indosiar (sekitar pukul 5.40 pagi), dijawab dengan santun dan baik olehnya (salut buatnya), dan saya memuji dan berterima kasih kepadanya karena sudah memberi penjelasan dengan santun dan mau menanggapi pertanyaan walaupun cuma dari anak - anak.....
Memang, halte Indosiar kurang memungkinkan karena pintunya cuma 1, tidak seperti koridor 8 yang punya 3 pintu. Sehingga agak ribet untuk keluar masuk.... Dan sering kali yang penunggu arah Kalideres menjadi terhambat karena kami (arah Lebak Bulus) sering mengerumuni pintu yang cuma 1 namun untuk 2 koridor itu.......
Hanya saja, ini sungguh merepotkan, karena ketika pulang dari Arah Lebak Bulus, kami harus memutar sampai ke Grogol, dan sekarang, ketika arah pergi dari Kalideres, masak kami juga harus memutar sampai ke Grogol ???
Saya sih rela saja untuk memutar sampai ke Grogol (dengan SWPA nya yang panjang banget, bikin kaki pegel - pegel...) , namun tolong agar ADA KEJELASAN headway nya..... Inget loh.., anak sekolah tuh masuknya dipagiin jadi 6.30..., dan BANYAK dari kami rumahnya di Tanggerang...... Karena, sudah kedatangan busnya sulit untuk diprediksi, lampu merah Grogol kalo merah tuh lama banget deh, apalagi sore, semerawut banget.....
Maka dari itu, ada beberapa hal yang ingin saya utarakan.....
1. Kiranya Halte Indosiar dan Jelambar (terutama Indosiar) bisa diperpanjang, sehingga bisa ada 2 atau 3 pintu, maka Indosiar bisa dijadikan halte Transit Koridor 3 dan 8, maupun sebaliknya.... Dengan kondisi yang ada, saya lihat, halte Indosiar sepertinya memungkinkan untuk diperpanjang....
2. Kalau memperpanjang halte adalah hal yang sulit untuk dilakukan (lagipula, sayapun pesimis BLU bakal melakukan), maka dengan segala kerendah hati, saya memohon agar jumlah bus PP dan LRN ditambah dengan headway yang jelas..... Sehingga tidak teralu lama mengantri di Grogol.
(dan kalo bisa expres TransBatavia ditambah ya..., jadi ngga usah melewati SWPA grogol 1 - grogol 2 yang puanjang itu.......) Trus, kenapa saya ngga naik expres aja untuk ke Grogol, alasannya karena ngetemnya lama banget di Kalideres. Pernah kejadian, saya jadi musti lari - lari ke sekolah gara - gara mencoba naik express tapi kelamaan ngetem....
3. Jikalau, memang sulit untuk diperbesar maupun ditambah busnya..., kiranya halte Indosiar dan Jelambar masih difungsikan oleh "koridor 8 arah Lebak bulus" untuk menaikan penumpang, setidaknya untuk dibawah jam masuk sekolah (diibawah 6.30. Kenapa pagi ? Karena memang untuk jam - jam tertentu entah siang ataupun sore, halte Indosiar arah Lebak Bulus kadang menjadi sangat........ ramai sekali....
Terakhir,
Ya sudahlah, apalah arti saran dari seorang anak - anak.... toh yang yang komentar ini juga cuma anak - anak..... Kiranya mohon maaf kalau ada kata - kata yang menyinggung, karena saya toh juga manusia (masih anak - anak pula) yang penuh kekurangan... Tapi setidaknya, dengan koridor 8 terus beroperasi itu sudah bagus deh....
Terima kasih
Demikian, harap maklum.....
Maju terus, BLU (yang katanya mau dijadiin BUMD) Transjakarta!
Rab, 01/27/2010 - 14:06 — Guest

ARMADA KORIDOR 8 SANGAT JARANG
Sebelumnya perkenankan saya ucapkan SELAMAT HUT 6TH UTK TRANS JAKARTA, SEMOGA SEAMKIN SUKSES & SEMAKIN JAYA DALAM PELAYANAN PARA WARGA IBUKOTA DKI JAKARTA RAYA Ini, AMIN !
Dengan ini Saya juga hendak menanggapi tulisan Wibo di halaman paling awal atas:
* Sangat seringnya jalur busway koridor 8 diserobot mulai dari Pondok Indah sampai RS Tarakan. Oleh karena itu, headway koridor 8 menjadi sangat parah sewaktu peak hour, kondisinya sudah hampir menyamai koridor 3. Dengan faktor-faktor tersebut ditambah dengan jarangnya penjagaan jalur busway di koridor 8 membuat kondisi koridor 8 bertambah buruk. Bahkan hal ini berdampak ke jumlah penumpang, koridor 8 merupakan koridor dengan jumlah penumpang per hari paling rendah dari semua koridor.
Saya sangat setuju dengan Wibo, bahwa penjagaan Jalur Kor.8 tidak hanya jarang tetapi bahkan hampir tidak pernah dijaga, yang saya ingat dijaga hanya pada saat 3 bulan pertama saja pasca peresmian. Bai itu dijaga petugas Busway, DLLAJR maupun Polantas, ke3nya saling sinergy dengan baik. tetapi lewat dari itu, satu per satu mulai hilang, sampai kini. Mungkin saja dengan sering diserobotnya jalur Busway tersebut membuat nya menjadi lebih macet dibanding jalur lain. Tetapi tetap saja para pengguna Jalur Kor.8 masih ada dan justru terus meningkat. Coba saja bila para Bapak/Ibu Pejabat BLU TransJakarta bisa menyempatkan sedikit waktunya menjenguk Halte-2 yang dilalui Jalur Kor.8 pada jam sibuk (peak hour), saya berani jamin jumlah calon penumpangnya MELEBIHI dari jumlah calon penumpang ke HARMONI/Kalideres. Sehingga sering terjadi antrian membludak di Halte Utama maupun Transit, serta kebingungan par apenumpang naik dan turun dalam menggunakan busway seperti yg diutarakan SURAT PELAJAR diatas juga.
Tetapi yang membuat kami para pengguna jalur KOR.8 menjadi HERAN adalah justru perhatian yang berlebihan & armada ke Harmoni/Kalideres yang lebih banyak jumlahnya, ini nampak sering terlihat tidak semua bangku terisi oleh penumpang pada armada ke Harmoni/Kalideres.
Kiranya para pejabat BLU TRANSJAKARTA dapat Konsisten, sekali sudah meluncurkan Program maka bertanggungjawab untuk kelanjutannya. Sebuah Program sebelum diluncurkan/dilaksanakan operasionalnya, pasti ada Perencanaan (Plan), Pelaksanaan (Do), & Monitoring serta ambil tindakan tegas bila ada pelayanan yang kurang memuaskan (Action). Terlebih lagi ada rencana TARIF BUSWAY hendak dinaik-kan, hal tersebut tidak menjadi masalah selama Pelayanan yang diberikan dapat berjalan seiring memuaskan Para Pengguna Jasa Busway TRANSJAKARTA.
Kami harapkan dengan smeakin bertambahnya usia TRANSJAKARTA, juga meningkat pula Kedewasaannya dalam pelayanan kepada para pengguna jasanya.
Have a very nice anniversary
Jum, 02/05/2010 - 19:32 — Guest

Saya lanjutkan
saya sebagai pengguna TRANSJAKARTA juga berkomentar tenteng:
pada TRANSJAKARTA biru muda (TB019) yg saya naiki dari SENEN ke GAMBIR, knek TRANSJAKARTA sempat mengomeli saya. pas saya mau turun di GAMBIR knek berkata "huh, udh diteriakin dari tadi juga". padahal si knek tidak bilang dan pemberitahuan pada bus juga tidak dihidupkan! padahal kan fasilitas sudah disediakan yg lebih modern!!! apa mungkin TRANSJAKARTA asal memilih supir. dan sepertinya SUPIR TRANSJAKARTA TIDAK JAUH BEDA SEPERTI SEORANG SUPIR METROMINI!!!
dan TRANSJAKARTA yg saya naiki dari HARMONI menuju TAMAN ANGGREK, pramudiny membuka kaca bus dan asyik ngobrol! bahkan pemberitahuan halteny tidak dihidupkan!
lalu pas saya turun di TAMAN ANGGREK untuk transit menuju LEBAK BULUS. menunggu busny itu sangat lama! bahkan -+ 30menit. apa memang armadany sedikit atau???...
sepertinya TRANSJAKARTA yg benar" sesuai adalah TRANSJAKARTA koridor 1!!! jalur steril, pemberitahuan halte hidup, supir ramah!!!



