Belajarlah dari Surabaya
Jum, 12/04/2009 - 13:41 — Wibo
Mo bagi-bagi pengalaman ne setelah hampir setengah tahun menetap di Surabaya. Dibandingkan dengan Jakarta, situasi lalu lintas di Kota Pahlawan ini sangat tertib dan terkendali.
Di jalan-jalan utama protokol seperti di Ahmad Yani, Raya Darmo, Diponegoro, Urip Sumoharjo, Basuki Rachmat, Jenderal Sudirman, Tunjungan, dll, jalur lambat sebelah kiri hanya boleh dilalui oleh kendaraan umum dan sepeda motor. Pada saat jam-jam sibuk pagi hari dan sore hari, keadaan jalan-jalan utama protokol ini sangat macet, namun untuk kendaraan pribadi roda empat keatas TIDAK ADA yang boleh dan berani melintas di jalur kiri, walaupun jalur kiri ini TANPA separator, dan hanya ditandai oleh marka jalan garis sambung double. Polisi pun tegas TIDAK MENGARAHKAN kendaraan untuk masuk menggunakan jalur kiri. Tidak ada ampun untuk pelanggaran ini, jika ada kendaraan pribadi roda 4 nyelonong masuk dan menggunakan jalur kiri, langsung tilang!!! Walaupun macet total tidak bergerak sama sekali di jalur tengah dan jalur kanan. Sehingga bus kota dan angkutan umum lainnya pun berjalan dengan lenggang dan lancar di jalur kiri. Begitupun dengan sepeda motor tidak ada yang berani melewati garis batas traffic light sebelum zebra cross, tidak ada yang berani naik ke fly over, dan injak garis marka. Hampir seluruh lampu lalu lintasnya pun juga telah menggunakan timer. Ketertiban lalu lintas ini terjadi karena ketegasan dan kewibawaan aparat, terutama polisi, yang jika diperhatikan di bagian belakang setiap mobil patrolinya terdapat stiker yang berbunyi "Kami Mengabdi Tanpa Pungli."
Pernah saya menanyakan kepada seorang pejabat Dishub di lingkungan Pemkot Surabaya, mengapa di Surabaya tidak dibuat BRT atau yang konsepnya seperti Transjakarta Busway di Jakarta. Jawabannya: "Buat apa, dengan begini saja segala jenis angkutan umum sudah bebas macet. Tidak keluar uang untuk bikin separator, halte, dll. Bus kota DAMRI juga sudah nyaman pakai AC, dan bebas macet berjalan di jalur kiri." Setelah saya pikir, betul juga apa yang beliau bilang.
Rasio jumlah kendaraan bermotor dan panjang jalan di Surabaya dan Jakarta sebenarnya tidak jauh berbeda. Ribetnya juga sama. Ruwetnya juga sama. Tapi yang membedakan adalah ketegasan dan konsistensi aparatnya, terutama polisinya. Kalau polisinya tegas dan konsisten, maka semuanya jadi akan jadi lancar dan tertib. Bisakah Jakarta jadi seperti ini? Mosok kalah ambek Suroboyo rek.....Lak ngisin-ngisini.
KERRY
Artikel ini ditulis oleh Kerry di milis Suara Transjakarta pada tanggal 3 Desember 2009, 19:04
- 638 kali dibaca
Komentar
Sel, 12/08/2009 - 15:58 — juminten (tidak terverifikasi)

Surabaya
Saya rasa Jakarta juga bisa begitu JAKARTA -SURABAYA kan presidennya masih sama suku nya sama kebudayaannya sama jadi hal ini tinggal kemauan aja dari pihak yg berwajib utk bertindak tegas dan menjauhkan diri dari perbuatan yg tidak jujur gitu loh
Rab, 12/09/2009 - 22:23 — ocha (tidak terverifikasi)

saya setuju, surabaya memang
saya setuju, surabaya memang lebih tertib dibanding jakarta. semua teratur dan yang membuat saya lebih kagum adalah program - program yang disosialisasikan berjalan dengan baik dan semua aparat menjelaskan dengan cara yang simpatik.
bagaimana jakarta? apa tidak ada niat untuk memperbaiki sistem? karena reputasi polisi lalu lintas di jakarta sudah cukup buruk..
Sel, 12/22/2009 - 08:50 — Edo (tidak terverifikasi)

Peraturan sama pelaksananya beda hasilnya juga beda.
Peraturan sama pelaksananya beda hasilnya juga beda. Polisi Surabaya lebih berwibawa daripada Polisi Jakarta.
Jum, 12/25/2009 - 21:42 — aki (tidak terverifikasi)

Saya rada gak setuju...
Kenapa surabaya bisa begitu tertib, karena surabaya bukan megapolitan.
Coba aja liat jakarta saat libur lebaran dan libur sekolah, jalanan lenggang.
Tapi kalo hari kerja, orang bogor bisa lewat jakarta cuma buat ke bekasi, orang depok lewat jakarta cuma buat ke tangerang. Riweh.
Kita juga gak bisa menyalahkan aparat yang kurang tegas. Menurut saya pemerintah pusatnya yang gak tegas. Presiden aja masih suka bolak-balik bogor-Jakarta. Terlalu banyak pejabat yang pake patwal dan bikin jalanan di pause untuk sekian menit.

