Anda punya saran, kritik atau keluhan seputar Transjakarta busway? Saatnya menyuarakan isi hati Anda. Kirim saran & kritik Anda sekarang.

Kepadatan di Dukuh Atas

Sebagai pengguna busway Transjakarta koridor I + IV, saya selalu melalui Dukuh Atas. Tapi akhir2 ini saya merasa keberatan / kesal dengan tumpukan pengguna jasa di halte Dukuh Atas.

Karena berjubelnya calon pengguna jasa koridor VI, maka kami, calon pengguna jasa koridor IV harus berhadapan langsung dengan pengguna jasa yang baru turun dari busway koridor IV dan VI mau pindah ke halte Dukuh Atas untuk koridor I.

Hal ini sebenarnya sudah berlangsung lama, pada setiap jam 7.00-8.30 pagi. Tapi sepertinya ngga pernah ada tindak lanjut dari pengelola busway Transjakarta!

Buatkan akses masuk keluar baru untuk pengguna jasa yang mau turun di Dukuh Atas II dan mau melanjutkan perjalanan di halte Dukuh Atas I.

Atau minimal, perbesarlah halte, supaya calon pengguna jasa koridor VI ngga numpuk dan mengganggu calon penumpang koridor IV dan penumpang yang baru turun dan akan menuju halte Dukuh Atas I.

Halte2 di koridor I banyak yang diperbesar, padahal ukurannya masih cukup menampung pengguna jasa, kenapa halte Dukuh Atas II yang sudah jelas sempit masih dipertahankan?

Mau fotonya? Saya sempat foto, tapi ngga tau gimana caranya upload di forum ini.

Komentar

Avatar Guest

Inilah akibat dr kebijakan

Inilah akibat dr kebijakan per tanggal 1 maret 2010, dimana halimun sdh tidak lagi menaikkan penumpang yg ingin naik kor 6. Kebijakan ini kurang efektif, krn hanya membuat halte DA2 semaikn padat saja.

Avatar Nadia

Kebijakan Koridor 6 di buat untuk siapa?

Saya jg engga habis pikir, kebijakan 1 maret 2010 untuk koridor 6 sebenarnya dibuat untuk siapa yah? kok saya merasa malah makin semrawut, banyak yang mengeluh kebijakan ini justru merepotkan penumpang.

Penumpang Tiket Halimun yang ingin menggunakan jasa Koridor 6 ditolak naik langsung sementara latuhari-hari saya dengar tanpa berdebat boleh langsung ke ragunan. memangnya penumpang Tiket Halimun membayar lebih murah dibanding penumpang latuhari hari? tidak bukan? semua sama saja tapi kebijakan baru itu seperti menganaktirikan penumpang Tiket Halimun yang dipaksa harus naik koridor 4 untuk mengantri lg di Dukuh 2. Kebijakan yang benar2 tidak masuk akal.

Tolonglah kembalikan saja Halimun seperti dulu, penumpang boleh naik dan turun layaknya halte lain. Sudah konsekuensi penumpang jika kondisi Busway penuh saat tiba di Dukuh 2, Kecuali jika Transjakarta armada diperbanyak sebagai solusi JITU dan lebih tepat.

Jangan justru sengaja menampung penumpang di dukuh 2 yang jelas-jelas tidak memadai.Tolong Kembalikan fungsi Halimun dan mohon dengan sangat dengarlah keluhan kami. Terimakasih

Avatar Wibo

Kebijakan kor 6 di Halimun

Keluhan justru lebih banyak datang dari penumpang di Dukuh Atas soalnya tiap bis kor 6 sudah terisi penuh oleh penumpang yang transit di Halimun.

Coba deh, apakah kalo Anda beli tiket di halte Dukuh Atas 2 berarti Anda gak perlu ikut antrian lagi? Boleh gak Anda masuk dari pintu penurunan? Begitu pula jika kita beli tiket di halte transfer dimanapun, apakah kita harus lebih diprioritaskan dibandingkan penumpang lain yang transit?

Kalo menurut Anda halte Dukuh Atas 2 tidak memadai, Halimun justru lebih gak memadai. Kalo Anda pemakai setia kor 6, pasti masih inget keadaan 3 tahun lalu waktu kor 6 rutenya masih blom sampai Dukuh Atas, dan satu-satunya cara untuk menuju kor 6 adalah lewat Halimun. Setiap peak hour, ruang buat keluar dari dalam bis aja gak ada. Setelah kor 6 mengalami perpanjangan rute, antrian penumpang bisa diatasi dengan mengantri ke atas SWPA Dukuh Atas.

Saya udah nulis sebelumnya bahwa saya lebih suka cara yang dipakai yaitu pemeriksaan karcis penumpang dari Halimun dan Latuharhari. Apalagi pemasukan juga bisa bertambah karena banyak penumpang kor 4 yang beli tiket lagi di Halimun biar gak perlu antri di Dukuh Atas 2 (plus dapet duduk).

Diikuti dulu aja deh kebijakan baru ini, lagian ada tim yang selalu memantau kok, kalo akibatnya malah semakin buruk pasti akan dikembalikan ke keadaan awal lagi.

Avatar Nadia

Terimakasih respons nya ttg Kebijakan Koridor 6

well..thanks buat responsnya.memang semua masukan dikembalikan kepada para Transjakarta management, sebenarnya yang saya paparkan sebelumnya murni keluhan saya salahsatu dari penumpang halimun shelter yang merasa dibedakan dengan latuhari-hari. Tanpa bermaksud Ingin diprioritaskan.. Mungkin jika anda diposisi saya pun merasa kebijakan ini agak janggal. Kalaupun koridor 6 harus diturunkan di dukuh 2, turunkanlah semua penumpang (termasuk yg naik dari latuhari-hari) itu lebih fair.

Saya setuju dengan anda, Dicek saja Tiket berstempel Halimun dan Latuhari-hari, lagi-lagi bukan bermaksud ingin diprioritaskan dari penumpang transit koridor 4 tapi saya hanya mempertanyakan kebijakan setengah-setengah ini. Tentunya saya sangat berterimakasih dengan adanya Transjakarta selama ini, mudah-mudahan saran dan keluhan saya ini bisa bermanfaat bukan dipandang sebagai kritikan yang tanpa tujuan baik. Terimakasih

Avatar Wibo

Penumpang dari Halimun

Saya ngerti kok perasaan penumpang yang benar-benar beli tiket dari Halimun. Makanya saya sebenernya lebih suka cara pemeriksaan tiket, karena gak merugikan penumpang yang murni naik dari Halimun. Tapi entah kenapa ternyata BLU memberlakukan kebijakan ini, ya saat ini kita laksanakan aja dulu, nantinya kebijakan ini juga akan dievaluasi lagi oleh internal BLU... Sama-sama, terima kasih juga telah menulis komentar disini...

Avatar Arie Lestiawati

oh jd maksud anda tunggu ada

oh jd maksud anda tunggu ada yang pingsan dulu,atau tunggu yag lebih ekstrim lagi..

Avatar adilimo

Kebijakan kor 6 di Halimun-tidak setuju!

Kebijakan baru terhadap koridor 6 ini, menurut saya, merupakan bukti bahwa TRJ belum mampu membuat traffic management yang baik dan, tentunya, ketidaksiapan armada mereka dalam melayani penumpang. Mereka hanya mencoba menampung usulan/memuaskan penumpang dari koridor tertentu yang tanpa sadar, kebijakan itu telah merugikan penumpang dari koridor lainnya-terutama penumpang asal halte Halimun yang ingin menuju Ragunan, yang seharusnya memiliki hak yangsam dengan penumpang lainnya.oleh karena itu saya juga mendukung apabila penumpang dari halte Halimun yang ingin menuju Ragunan bisa langsung naik bis tanpa harus antri lagi di Halte Duku 2.

Keluhan yang muncul dari penumpang asal halte halimun yang tidak bisa langsung naik bis tujuan ragunan, sangat wajar. Sebab hak mereka sebagai penumpang terabaikan oleh penumpang lain yang semestinya memiliki hak yang sama. Kalaupun ada pihak yang mendukung kebijakan baru ini boleh-boleh saja. Tapi, apakah Anda merasakan 'penderitaan' baru para penumpang asal halte Halimun yang ingin menuju Ragunan? Padahal perlu diingat, konsep awal beroperasinya TRJ adalah penumpang bisa melakukan perjalanan/atau transit dari halte manapun dengan nyaman dan dengan biaya yang terjangkau bukan?

Perlu dipahami pula, bahwa kepadatan penumpang di masa peak hours, adalah sesuatu yang wajar terjadi dan seharusnya dipahami oleh semua user TRJ. Jadi pilihannya dikembalikan kepada penumpang sendiri. Bila ingin duduk, ya, ia mungkin harus lebih bersabar untuk mendapatkan kesempatan itu di bis berikutnya. Sedangkan, buat mereka yang ingin mengejar waktu, silahkan untuk naik, walau harus berdiri. Tapi, Tentunya harus sesuai dengan aturan yang berlaku.

Saya yakin, dibentuknya komunitas/forum ini adalah sebagai corong aspirasi pengguna TRJ. Untuk itu, saya mengharapkan, forum ini mampu menjadi kontrol sosial bagi management TRJ dan memperjuangkan hak penumpang bila ada kebijakan yang merugikan.

Avatar Nadia

Tolong bantu Jembati Keluhan dan Saran kami

Saya juga sangat berharap komunitas ini bisa menjembatani keluhan dan saran penumpang kepada para Management Transjakarta, bukan malah terkesan menyalahkan penumpang atas kritik kebijakan yang diberlakukan.

Semua semata-mata kenyataan di lapangan dan demi kemajuan Transjakarta juga. Thanks

Avatar Wibo

Penumpang transfer kor 1, 4, 6

Saya minta maaf kalo komentar saya yang pertama bernada menyinggung, saya hanya mau menanggapi pertanyaan "memangnya penumpang Tiket Halimun membayar lebih murah dibanding penumpang latuhari hari?" Karena ini sama aja kita minta diprioritaskan kalo beli tiket dari halte transfer, dan gak perlu ikut antrian penumpang lain yang transit.

Dari survei yang dulu pernah dilakukan, penumpang transfer 1-6 dan 1-4 jumlahnya lebih banyak daripada 4-6. Dengan sudah penuhnya traja kor 6 di Halimun, maka antrian kor 6 di Dukuh Atas 2 akan terus bertambah sampai ke atas SWPA karena tidak bisa tertampung masuk ke traja kor 6. Kebijakan ini tujuannya untuk menghilangkan penumpang transfer 4-6 di Halimun. Makanya dulu pernah dilakukan pemeriksaan tiket di Dukuh Atas 2, dan ini cara yang seharusnya dilakukan karena tidak merugikan penumpang murni dari Halimun. Kalo yang saya tangkap, kebijakan ini masih ujicoba, saat ini kita cuma bisa memantau dulu sampai nanti ada evaluasi.

Avatar Dedi Arifin

Perbanyak jumlah bisnya.

Hampir setiap peak hour halte busway penuh.... trus berdesak-desakn sampe ada yang kejepit pintu busway... yah begini layanan publik di Indonesia.... sebenernya mudah aja perbanyak jumlah bisnya .. jarak antar bisnya 5 menit. ..ah gitu aja ga bisa ...gimana nih FOKE !

Kirim komentar

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p> <br /> <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
Maaf, Anda manusia atau spam bot?
Jika Anda manusia, tolong ketikkan kode yang muncul di bawah ini (case sensitive)
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.