Anda punya saran, kritik atau keluhan seputar Transjakarta busway? Saatnya menyuarakan isi hati Anda. Kirim saran & kritik Anda sekarang.

Pemisahan Gender

Selamat siang, nama saya Feby. Saya pengguna busway koridor 6 (Ragunan - Dukuh Atas 2). Setiap hari saya selalu menggunakan busway dengan suaminya saya. Baru2 ini ada peraturan baru yaitu "Pemisahan Gender", yang bagi kami dan pengguna busway lainnya menganggap itu bukanlah solusi yang pas atas permasalahan yang terjadi beberapa waktu lalu, yaitu pelecehan seksual. Karena walaupun wanita dan pria naik dari pintu yang berbeda, namun di dalam bis masih tercampur aduk dan masih berdesak2an. Alhasil, wanita dan pria masih saling berdempetan seperti layaknya "ikan cuek".

Kemarin, Senin 14 Juni 2010 saya dan suami naik busway dari Dukuh Atas 2 sekitar jam 7an malam tujuan ke Ragunan. Pada saat sedang menunggu bus di antrian penumpang, tiba2 satpam busway menegur kami dengan tujuan untuk memisahkan kami. Pada saat saya singgung "apa saya harus pisah dengan suami saya?". Tuh satpam tidak bisa menjawabnya. Malah teman2nya menyindir2 kami dengan sangat tidak sopan. Seperti layaknya orang yang tidak punya etika.

Bapak2 pejabat beserta kru busway harusnya memikirkan akibat dari pemisahan gender ini. Apakah suami istri harus terpisah pada saat naik busway? Apakah istri yang sedang hamil pun juga harus terpisah dengan suaminya? Apakah Bapak dan Ibu pun harus terpisah saat jalan bersama anak2nya yang masih kecil? Sungguh bukan solusi yang tepat untuk kepadatan busway.

Solusi yang terbaik adalah :
1. ditambahnya armada bus di semua jurusan. Jangan koridor ditambah, tapi bus malah dibagi2 pak. Yang ada malah makin numpuk aja tuh penumpang di smua koridor.
2. Waktu kedatangan bus ke halte tidak terlalu lama bedanya. Pelecehan seksual yang penah terjadi mungkin dikarenakan bus yang lama datangnya, bus yang jumlahnya sedikit, sehingga di halte atau di dalam bus penupang semakin menumpuk ga karuan.
3. Perbesar halte yang ada di Dukuh Atas 2, karena makin banyaknya penumpang yang turun dan yg naik selalu beradu atau menjadi bergiliran masuk ke halte dikarenakan kondisi halte yang sudah sesak penuh orang.
4. Petugas2 busway juga harus diajarkan tata krama yang baik agar hubungan dengan para penumpang juga baik. Tidak arogan dan tidak muncul ketidaksopanan.

Mohon bapak2 busway memperhatikan kenyamana para pengguna busway. Solusi dari kami2 sebagai pengguna busway adalah masukan yang baik buat terciptanya kenyamanan dan keamanan. Transjakarta bisa maju sampe sekarang pun tidak lepas dari para pengguna transjakarta.

Terima kasih

Komentar

Avatar Lily Purwati

Pemisahan Gender

Pemisahan gender di Transjakarta bertujuan apa?

Untuk melindungi perempuan? Apakah perempuan di Jakarta sangat lemah atau situasinya sebuas zaman jahiliyah sehingga tidak mampu melindungi diri sendiri? Setahu saya, Foni - korban pelecehan tersebut, sempat menghajar & membawa pelaku ke polisi. Tidak lemah kan? Hanya polisi saja yang malas tidak memproses pelaku, sehingga tidak ada efek jera pelaku atau efek menakuti calon pelaku lainnya, dengan alasan tidak ada saksi/bukti. Alasan yang terlalu dibuat-buat.

Kalau mau melindungi perempuan caranya bukannya pemisahan gender seperti itu, yang malah membuat perempuan semakin tidak berdaya. Cara yagn lebih efektif adalah : pendidikan. Beri pendidikan kepada perempuan agar bisa mengatakan TIDAK terhadap diskriminasi, TIDAK terhadap eksploitasi seksual dan TIDAK terhadap segala macam bentuk ketidakadilan! Berani melawan saat dilanggar hak-hak pribadinya. Berani melawan saat bagian tubuhnya dijamah oleh orang yang tidak berhak! Berani melawan saat polisi mengabaikan hak-haknya sebagai korban pelapor!

Salam,

Avatar deni

Pemisahan Gender

Benar apa yg di sampaikan oleh ibu febi...sepertinya untuk pemisahan gender adalah solusi yg kurang pas....saya sangat setuju dengan semua saran yang di sampaikan oleh ibu febi...seharusnya memang jumlah armada untuk masing2 koridor di tambah dan sterilisasi jalur benar benar di terapkan dan di jalankan di semua koridor...sehingga head way traja tidak terlalu jauh...sehingga tidak terjadi penumpukan penumpang di dalam shelter...mohon kepada pihak BLU ini agar menjadi masukan yg bs di perhatikan dan di tindak lanjuti...

terima kasih....

Avatar Aan

tentang pembagian antrian berdasar jenis kelamin

buat semuanya..
Pembagian antrian berdasar gender emang penerapan antrian ini menimbulkan banyak masalah yaitu: waktu tunggu meningkat signifikan, penumpang prioritas (orang cacat, lansia, ibu hamil) tak lagi diprioritaskan, dll. Apalagi kalo cowok yg di kor 4-8, yg pake pintu belakang yg sempitt susah masuknya.

Komunitas STJ udah sempat ke BLU buat bahas soal antrian ini, dan jawaban BLU juga masih ngegantung, yaitu "akan ditinjau ulang". Jawaban yg memang sangat tidak memuaskan, krn tidak ada kepastian.
Karena kami dr pihak STJ jg keberatan dgn sistem ini, malah gak cuma pria, tapi wanita"nya juga keberatan. :P

BLU jg kyknya masih ingin mempertahankan model antrian ala 'toilet' ini, krn mereka sempat di sorot masyarakat dan media saat ada kasus pelecehan seksual di Blok M, jadi timbullah panic idea tanpa studi kasus n perencanaan matang.

Sebenarnya, akar dari masalah antrian adalah sterilisasi jalur dan BBG.. otomatis kalo semuanya lancar, maka penumpukan penumpang akan berkurang dan pelecehan bisa diminimalisir

thx
-aan-

Avatar Tirta Perdana

pemisahan gender

Saya setiap hari naik busway dari Kalideres sampai ke Bendungan hilir dan sesampainya saya di Harmoni saya dan pacar saya jadi terpisah karena peraturan yang ala "toilet" ini. Bagi saya peraturan ini ujung-ujungnya hanya menyusahkan penumpang, ya seperti kata ibu febi, tidak mungkin kan suami istri yang pergi bersama lalu dipisah?, saya yang perginya bersama pacar saya saja tidak rela dipisah seperti itu. Kalau terpisah seperti itu ujung-ujungnya bila salah satu dari kami sampai di depan lebih dahulu pasti akan saling tunggu menunggu dan pasti hal tersebut dapat mengganggu barisan antrian bus Transjakarta yang seperti ikan pepes.

Bagaimana bila ada keluarga yang beranggotakan suami, istri, kakak perempuan dan adik laki-laki? Apa mereka harus disortir layaknya sampah organik dan non organik?
Sebenarnya masalah utama dari kejadian pelecehan seksual tersebut adalah kurang tertibnya penumpang saat mengantri dan kurangnya armada, sehingga penumpang jadi menumpuk di satu halte yang sempit dan muncullah kesempatan-kesempatan untuk melakukan hal seperti itu.

Mohon pihak Transjakarta memperhatikan kembali hal-hal seperti ini, kalau Transjakarta maju, toh kita semua juga ikut senang dan tidak akan ragu untuk naik Transjakarta.

Terima Kasih...

Avatar Guest

cocoknya bagian khusus ini

cocoknya bagian khusus ini juga buat keluarga selain perempuan, bapak2 dan anaknya pun bisa masuk ke bagian khusus ini. sementara perempuan di bebaskan ke antrian manapun, tapi lebih terlindungi bila diantrian perempuan dan keluarga

Avatar Guest

o ya yg saya amati pemisahan

o ya yg saya amati pemisahan antrian dua kelompok ini lebih tertib dan lebih aman terlihat pola memanjang dan tidak terlalu bergerombol, namun di lain pihak kenyamanan berkurang.
tergantung prioritas mana yg mau diambil kenyamanan atau ketertiban keamanan. untuk suami istri disarankan bisa masuk ke antrian khusus yg ada perempuan juga

Avatar Hakim

pemisahan gender

Sebagai pengguna TJ yg setia sejak pertama kali diluncurkan, saya merasa kecewa atas keputusan pemisahan gender seperti ini. Ini menunjukan bahwa BLU tidak cerdas dan tidak berfikir panjang dalam membuat kebijakan. Alangkah naifnya kebijakan ini diterapkan hanya karena ada secuil kasus pelecehan yg terjadi belakang ini (ibaratnya membakar lumbung padi untuk membunuh seekor tikus).
Apakah BLU tidak menyadari bahwa kami sebagai kaum laki2 merasa dilecehkan juga, karena BLU menggeneralisir semua laki2 adalah penjahat kelamin yg tidak tahu etika. Janganlah karena ulah 1 atau 2 orang, maka kami semua yg menderita.

Bagaimana tidak dilecehkan, kami kaum laki2 dinilai sebagai kaum marginal, nomor 2 setelah perempuan, padahal laki2 pun membayar dg tarif yg sama dengan perempuan. Belum lagi saya sebagai pengguna, khususnya di koridor 6 merasakan ketidaknyamanan yg sangat karena kebijakan ini, dimana sering antrian tidak berimbang antara laki2 dan perempuan, saat antrian penumpang perempuan sedikit dan laki2 banyak, kami kaum laki2 harus sabar berdesak2an masuk ke TJ dengan ukuran pintu belakang yg jauh lebih kecil dari pintu depan yg untuk perempuan.

Mohon kebijakan ini ditinjau ulang, karena kami khawatir banyak pengguna, terlebih yg sering bepergian bersama keluarga atau pacar merasa tidak nyaman menggunakan TJ akibat kebijakan konyol ini, dan pada akhirnya antipati untuk naik TJ sebagai alat transportasi yg dapat diandalkan.

Terima kasih

Avatar Guest

untuk prioritas keamanan

untuk prioritas keamanan terkadang kenyamanan dikorbankan nampaknya. mohon BLU mempertimbangkan antrian atau bagian perempuan juga bisa diikutkan untuk keluarga, jadi yg berkeluarga tidak terpencar2. perempuan dan keluarga harus lebih dilindungi dan diutamakan, hal ini merupakan budaya kita juga

Avatar Wibo

Tertibkan antrian, bukan pisahkan antrian

Haha, saya aja yang sangat mencintai traja sempet mikir buat meninggalkannya setelah antrian ini diterapkan. Sayangnya, traja masih jauh lebih aman dibanding angkutan umum lain, jadi saya tiap hari mau gak mau tersiksa karena antrian ini... :(

Yup, ini betul-betul kebijakan yang sangat tidak cerdas. Sudah 1 minggu terakhir ini waktu perjalanan saya bertambah sangat signifikan. Paling parah yaitu waktu tunggu saat transit di Matraman menuju arah Dukuh Atas, biasanya hanya 5-10 menit, tapi setelah antrian dipisah bisa menjadi 20 menit lebih. Penyebabnya laki-laki harus menunggu di sebelah kiri pagar, yang sebenernya pagar itu membatasi agar tidak ada penumpang yang masuk antrian dari kiri. Alhasil, penumpang laki-laki harus berdesakan masuk karena ruang mengantri sangat sempit.

Seharusnya yang dilakukan BLU adalah MENERTIBKAN antrian, bukan memisahkan berdasarkan gender! Pertanyaannya, bisa gak penumpang disuruh tertib? Jelas bisa, contohnya antrian di Dukuh Atas 2 sewaktu peak sore. Penumpang bisa disuruh antri satu baris ke atas SWPA, tentunya dengan arahan satgas di halte. Antrian kor 6 disebelah kiri, antrian kor 4 disebelah kanan, dan ditengahnya jalan untuk penumpang yang transfer menuju kor 1. Oleh karena itu, BLU mestinya memikirkan gimana cara membuat antrian menjadi tertib agar penumpang jadi nyaman waktu mengantri, bukannya malah bikin kebijakan aneh kayak gini...

Avatar mba

setuju juga cie....

bagus juga buat pelayanan yang lebih baikk...karena apalagi di dukuh atas 2 yang kalau sudah jam pulang kerja penumpang padet banged...jadii bagus juga klo dipisahkan karena kadang laki-laki tidak mau kalah juga sama wanita...sengaja desak-desakan!!!

semangad buat pelayanan nya....

tapi tolong donk petugas yang hanya bertugas ngatur-ngatur jangan suka seenak-enaknya aja sama petugas yang ada di lapangan!! (satgas, pramudi, patroli)
kalian kan ga tau seberapa beratnya kerja dilapangan....semuanya butuh proses....peraturan memang harus dijalankan...tapi ga seharusnya pake emosi juga kan???

Kirim komentar

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p> <br /> <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
Maaf, Anda manusia atau spam bot?
Jika Anda manusia, tolong ketikkan kode yang muncul di bawah ini (case sensitive)
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.