Rangkuman keluhan
Rab, 08/04/2010 - 15:59 — Lily Purwati
Dear all STJ,
Saya berusaha merangkum keluhan yang selama ini disuarakan oleh rekan2, seperti di bawah ini. Mohon bantuannya, kalau ada yang kurang, ditambahkan. Terima kasih.
No. Keluhan & Penyebab
1. Antrian masuk bus tidak tertib
Bottle neck, jalur antrian lebih lebar daripada pintu
Penumpang yg mau duduk tidak mau masuk bus, menutupi
jalur antrian
Penumpang curang menyerobot antrian
Satu pintu untuk beberapa jurusan
Sarana & sistem antrian tidak tepat
2. Halte tidak memadai
Terlalu sempit
Kotor
Petunjuk tidak memadai
Pintu otomatis rusak
3. Antrian loket panjang
Tidak ada/lama melayani uang kembalian
Jakcard yang baru tidak membantu
4. Bus terlalu penuh sesak
Bus datang terlambat
Armada kurang
5. Supir tidak memuaskan
Ngebut, tidak sabar, kasar membawa kendaraan
Melanggar rambu-rambu
Menurunkan penumpang tidak di pintu yang disediakan
6. Petugas loket tidak ramah
7. Satgas di halte tidak memuaskan
Tidak ramah
Tidak menguasai tugas/medan
Tidak tegas
Tidak tanggap
8. Satgas di dalam bus tidak memuaskan
Tidak tanggap
Tidak tegas
9. Perlengkapan bus tidak memadai
Identitas bus tidak ada/rusak
Identitas supir tidak ada/tidak dipasang
Announcer tidak berfungsi
Suara announcer kalah dengan suara radio/tape yang disetel
oleh supir
AC tidak berfungsi
Pintu bus rusak
Pegangan untuk berdiri banyak yang rusak
- 1185 kali dibaca
Komentar
Kam, 08/05/2010 - 12:23 — Haryadi Bihamding
SARAN -USUL
Dengan hormat,
Saya Haryadi Bihamding (45th) pengguna setia bus Trans Jakarta, setiap pagi saya naik di Halte Pasar Genjing atau Matraman dan turun di Patra Kuningan. Bus yang selalu kami tunggu adalah yang EXPRESS (P.Gadung-Ragunan tidak lewat Dukuh Atas). Akhir-akhir ini saya perhatikan : tulisan express nya sudah pudar nyaris tak terbaca kadang juga tidak ada terpasang tulisan depannya (ID)untuk itu USUL /SARAN dari saya :
1. Bahan/tulisannya agar dibuat lebih baik lebih tahan lama bisa dari plastic, plat seperti nomor polisi kendaraan atau yang lainnya jangan seperti yang ada sekarang sepertinya dari kertas biasa lalu print computer sehingga cepat pudar atau rusak.
2. Warna tulisannya kalau bisa warna MERAH / ORANGE sehingga dari jauh sudah teridentifikasi.
3. Di depan tulisan tersebut dipasang lampu kecil warna merah juga atau orange agar pada malam hari dari jauh pun sudah teridentifikasi.
4. Begitu pula disamping agak keatas bisa dipasangi sticker tulisan express agar orang yang antri dibelakang pun bisa terbaca karena bila tulisannya hanya didepan saja maka yang bisa baca hanya penumpang yang berdirinya dekat dari pintu halte saja. Di halte Matraman atau Pasar Genjing yang biasa saya menunggu penumpangnya ada 2 yaitu yang mau ke Dukuh Atas dan yang mau langsung ke Kuningan HR.Rasuna Said, Mampang dst. Kadang yang antri dibelakang tidak tahu sedang yang dekat pintu tidak ada yang naik ke bus karena beda tujuan.
Dengan adanya bantuan koridor 4 yang juga melayani koridor 6 ini yang diidentifikasi sebagai EXPRESS kami sangat terbantu terutama efisiensi WAKTU DAN KENYAMANAN ( selisih waktunya bisa 20 sampai 35 menit).
Demikian usul /saran dari saya atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.
Salam
Haryadi Bihamding
Kam, 08/05/2010 - 12:52 — Nuridin (tidak terverifikasi)

Yth, segenap unsur
Yth, segenap unsur kepolisian, Pengusaha Busway, pengguna dan Mentri Transportasi dan perhubungan,
Busway adalah moda transportasi yang seyogyanya menjadi solusi kemacetan Jakarta, namun akhir-akhir ini malahan menjadi penyebab macetnya Jakarta, Saya bukan pengguna Busway, namun prihatin atas kondisinya serta kebijakan yang dibuat. Baru-baru ini saya polisi menggelar operasi yang namanya 'sterilisasi jalur Busway' yang saya tanyakan apa sich tujuanya???dan sampai kapan bapak2 polisi, DLLAJJR mau nungguan jalur Busway.????, Busway sudah punya jalur khusus, namun kekhususanya tidak didukung perangkat hukum yang jelas, seperti misalnya: kalau memang benar polisi dan Dep.Transportasi perhubungan ingin membenahinya dengan baik, kenapa nggak dibuat undang2 yang lebih Saklek untuk pelanggar jalur Busway, seperti : Berik tanda bolongan pada SIM, 1 x untuk pelanggaran pertama, 2 kali untuk pelanggaran ke 2 dan 3 kali untuk pelanggaran ketiga dan Non aktifkan SIM apabila masih terjadi pelanggaran dan harus menunggu 5 tahun untuk dapat SIM pengganti, atau masih apabila terjadi hukuman 3 bulan dst..., Namun ingat, aparat kepolisian juga yang memang harus konsekuen dengan sanksi2 tersebut, jangan terima sogokan!!, dan kalau Busway kurang Armadanya, Ajaklah swasta patungan membenahi busway , sehingga nggak ada lagi bis2 abal yang nggak tertib di jalan. Yach...itulah mimpi saya untuk Jakarta yang ramah, sehat dan tertib, Amiin...
Kam, 08/05/2010 - 13:15 — Lily Purwati
Nuridin
Nuridin yg baik,
Saya pun sependapat spt Anda. Intinya : harus tegas & konsisten dari pembuat kebijkan agar rakyat juga jelas maunya apa.
Untuk bolongin/hangusin SIM, itu saya setuju banget!!
Moga2 steriliasi tetap konsisten & ada tindakan tegas. Kalau terbukti efektif pasti muncul kesadaran sendiri untuk tertib berlalu-lintas karena tujuannay agar semua, gak cuma busway, lancar. Pemakai kendaraan pribadi bisa beralih ke busway. Yang mau pakai kendaraan pribadi, monggo, asal bersedia bayar lebih mahal. Dengan ERP, non-subsidi bbm, pajak kendaraan di atas 1500cc, dll, hasilnya untuk subsidi angkutan umum spt Traja ini agar rakyat kebanyakan menikmati angkutan umum yang cepat, aman, nyaman dan terjangkau.
BTW, Nurdin cobalah naik busway & kirimkan saran/kritiknya ke sini (walau saya bukan moderator, saya lihat moderator/owner cukup peduli & berusaha keras membantu menyampaikan ke BLU, hanya BLUnya aja yang rada bolot). Yang penting kita semua sama2 jangan bosan "menggerubuk" pemerintah/aparat agar melayani rakyat.
Kam, 08/05/2010 - 13:21 — Lily Purwati
Hehhe
Haryadi yang baik,
Terima kasih masukannya. Saya catat dulu yah. Moga2 surat cinta saya untuk BLU bisa cepat selesai.
Kam, 08/05/2010 - 19:46 — igo (tidak terverifikasi)

Reply
Bpk.Nuridin,
Transjakarta tidak merupakan solusi kemacetan jakarta kalau bapak sendiri masih memakai mobil pribadi. Disamping itu, busway sendiri sebenernya langkah awal untuk mengurangi kemacetan dan saya merasa busway ini sebagai prototype untuk memberi latihan kepada rakyat jakarta berbudaya tertib, budaya antri, dan patuh lalu lintas. Dan patutnya untuk mencapai tujuannya harus dilakukan penertiban, salah satu contohnya men-sterilkan jalur busway. Di negara2 luar seperti Australia juga banyak yang melanggar, banyak yang gak punya kesadaran lalu lintas, banyak yang DUI, banyak yang kebut2an. Makanya ada institusi yang namanya POLISI. Tetapi walaupun punya perangkat hukum yang jelas, support dari masyarakat itu adalah yang paling significant. Jangan salahkan POLISI terus2an lah, salahkan diri sendiri juga.. kenapa cuma mengkritik dan tidak berpikir kritis dan melakukan kontribusi.
Terima Kasih
Jum, 08/06/2010 - 22:01 — Bambang (tidak terverifikasi)

Playanan publik
Saya kebetulan bbrp kali menemukan hal yang amat mengganggu pada saat menggunakan busway,seperti pengisian BBG dimana saat antrian penumpang banyak, tetapi karena harus ngisi BBG penumpang dicuekin aja dan yang saya heran ngisi BBG nya bisa berendeng 3 atau 4 bis berturut2 sekaligus ,sehingga penumpang semakin bertambah banyak. Ada lagi yang hampir mirip diatas yaitu pada sekitar jam 11 san u/ makan siang ,sama pula kejadiannya 3 atau 4 bis berturut2 lewat saja . Apakah tidak bisa bergantian ngisi BBG maupun makan nya ? Kalau ngisi BBG ,okelah bis harus dibawa serta ,tetapi waktu makan apakah tidak disiapkan sopir pengganti u/ mengganti sopir yang sedang makan sehingga bisnya tetap beroperasi ? disebabkan oleh kejadian2 diatas ada lagi akibat kelanjutannya yaitu bis berikutnya yang masuk langsung diserbu penumpang (berjubel ) karena penumpangnya telah lama menunggu ,ee berikutnya datang lagi bis dengan jurusan yang sama dan bis ini lapar penumpang karena penumpangnya sudah pada naik bis didepannya ,hal ini akan terus berlanjut pada halte2 berikutnya ,bis pertama penuh sesak sedang bis kedua kosong ( Lapar tadi itu) . Apakah tdk ada yang mengatur hal ini sehingga terjadi pemerataan penumpang pada bis berikutnya .Mudah2an bisa menjadi bahan pemikiran .Terima kasih banyak atas perhatiannya demi kebaikan alat transportasi ini .Salam.
Rab, 08/25/2010 - 22:58 — aria sanjaya
layanan non produktif
Mungkin ada juga penumpang yang sudah mengerti masalah ini,
tetapi sebagian besar belum tahu juga. maka dari itu saya akan menjelaskan mengenai pelayanan non produktif ini.
seperti BBG maupun jam makan Pagi -- siang.
setiap Pam BBG sudah diatur sedemikian rupa oleh petugas traja itu sendiri.
karna penempatan BBG tidak hanya meng khususkan untuk 1 corridor saja. tetapi juga beberapa corridor yang lain unuk beberapa armadanya juga di ikut sertakan dalam satu tempat BBG. Oleh karna itu petugas pengendali tempat BBG itu berada, sudah membuat pengaturan waktu (jadwal) / bagian corridor mana saja yang mesti ditangani pada saat pengisian BBGnya.
maka tidak heran kalo melihat traja yang lewat beberapakali tidak menaikan penumpang dengan tanda tertulis BBG didepannya. karna memang itu sudah pd waktunya mereka mesti pengisin BBG. demikian dengan corridor yang lainnya juga, Bisa pagi,siang,sore, maupun malam BBGnya.
Lanjut >>
Ttraja yang merapat untuk makan, itu sudah menjadi toleransi dari petugas pengendali traja kalo memang dia layak untuk makan atau istirahat dulu, karena:
1> waktu dapat kotak makan mereka (kotak putih Dari ketring), pramudi maupun satgas tidak seiring pada saat waktu pengisian BBG. karna ketika waktu BBG yang seharusnya bisa di manfaatin untuk makan. mereka belum mendapati jatah makannya (kotak putih).
2> traja selalu lingkar badai terus, karena waktu BBGnya masih lama atau Berpasan pada saat mereka pergantian shif. Hingga mereka layak untuk beristirahat dulu untuk makan sekaligus mengurangi themperatur busnya yang sudah panas.
mungkin itu saja penjelasan yang saya ketahui dan dapat saya mengerti.
trims
Min, 08/08/2010 - 10:49 — Araporo (tidak terverifikasi)

Kemacetan Jkt
Sama sperti P. Nurdin (Kamis 5/8), sy pun skrg bukan pengguna busway/traja. Setahun lalu sy beralih ke busway (Ragunan-Kuningan) krn bosan kna mcet, tp hanya bertahan 1 bln sj. Memang nyaman dlm bus meskipun kdang bdiri, tapi antrian di halte bisa 15-20 menit kdang lebih & perjalanan traja relatif lama yg membuat sy "cabut" lg dari traja. Penyebabnya krn jalur busway diserobot kendaraan non-traja (kend pribadi/penumpang, spd mtor dll) yg membuat traja jdi terhambat. Tentang pnyebab kemacetan jkt, sy tdk spendapat dg P. Nuridin. Mnurut hemat sy, klo kita mau instropeksi, stiap pengguna kendraan bermotor berkontribusi thdp kmacetan, tp kontributor terbesar adalahkndaraan pribadi, disusul kmdian spd mtor & angkutan umum. Dari skian panjang jln di jkt (jln non-tol & tol), yg paling bnyak mengokupasi jln adl kndaraan pribadi mengingat jmlahnya yg smakin tdk terkendali, smentara panjang jalur busway & jml armadanya tidak ada apa2nya dibanding dg jml kndaraan & panjang jln yg diokupasi kendaraan pribadi, trmasuk jln tol. Sy menganalogikan jalur busway ini spti bahu jln pd tol. Bayangkan jika dlm tol terjadi mcet total/stagnan misal krn ada insiden lakalantas, tdk ada bahu jln atau ada bahu jln tpi diokupasi kendaraan, maka stagnasi pasti tdk bs diatasi. Tp jika tersedia bhu jln, maka bhu jln itu yg bs menyelamatkan. Itu pula yang pasti akn trjadi di jkt, yg diprediksi akan stagnasi skitar 2014 bahkan dg kondisi lalin skr, stagn bs lbih cpat. Tdk bs dibayangkan klo stagn sdh dtang tpi tdk ada jalur busway, mau lewat mana? satu2nya jln tentunya jln kaki. Skrg kita msih bisa "bersyukur" msih bsa jln mskipun 5-10 km/jm. Penggalakan sterilisasi jalur busway terjadi krn kita sbg pengguna jln memang blm tertib. Kita hanya memikirkan hak (sdh byr pajak, berhak pakai jln) tpi mengabaikan kewajiban (sbg pengguna jln, wajib membagi jln kpd pengguna lain). Kita bs lihat, jalur busway akan kmbali diserobot kend non-traja ketika ptugas sterilisasi sdh hengkang. Skrg pun sy sdg mempertimbangkan ke busway lagi, syukur bs seterusnya jika jalur busway jga steril selamanya.
Sen, 08/09/2010 - 13:58 — Lily Purwati
Araporo
@Araporo, setuju.
Minimal kalau busway lancar, rakyat banyak ada pilhan. Mau nyaman, disupirin, bisa tidur, boleh naik kendraan pribadi, tapi kruang lancar atau nanti jadi bayar mahal.
Mau lancar? Naik busway lah. Walaupun tidak senyaman/tidak seperti raja dibandingkan naik kendraan pribadi, tapi standar kenyamanan minimal terpenuhi. Yang pasti : cepat/pasti & tidak keringatan. :)
Dibanding sekrang, gak ada pilihan, semua jalur macet!
Oke, mari beralih ke busway & rajin2 mengkritisi pemerintah.



