Polah Pola Transportasi Makro Jakarta

Sebelumnya perkenankan kami sekeluarga mengucapkan kepada seluruh rekan-rekan milis yang merayakannya:
"Selamat Idul Fitri 1428 H, Mohon maaf lahir & bathin"

Saya cenderung mengintepretasikan kata "Polah" disini dalam konteks yang positif, yaitu bermakna tingkah laku, gerakan atau perbuatan yang tentunya melibatkan unsur aktivitas atau suatu kegiatan pelaksanaan yang seringkali kita kenal juga dengan istilah "implementasi" . Kata "implementable" (dapat diimplementasikan) tampaknya merupakan salah satu unsur utama dari beberapa unsur lainnya yang mendasari pengembangan Pola Transportasi Makro. Ada baiknya kita lihat peta buta yang saya cantumkan link-nya disini untuk kita simak bersama-sama, mudah-mudahan peta tersebut bisa self explanatory, sehingga tidak memerlukan uraian yang panjang lebar.

Kita tentu berharap apabila "Era Angkutan Umum Massal" nantinya akan benar-benar bisa terwujud di kota tercinta ini, DKI Jakarta tampaknya akan terlayani oleh 30 tiga puluh) jalur angkutan massal guna menggulirkan kita semua bersama jutaan perjalanan penduduk kota lainnya, yang beserta jaringan feeder system-nya akan mampu menghubungkan seluruh sentra-sentra primer & sekunder, pusat-pusat aktivitas kota dan pemukiman-pemukiman penduduk yang tersebar luas di seantero penjuru kota. For a quick sum up, terlihat pada peta buta tersebut, ada 7 (tujuh) koridor angkutan massal yang menohok ke pusat kota dari wilayah selatan, ada 8 (delapan) jalur yang menusuk dari wilayah timur, dan 4 (empat) jalur yang membujur dari barat. Dengan demikian, masing-masing wilayah, baik dari barat, timur, maupun selatan tidak hanya akan dilayani oleh 1 atau 2 koridor saja, melainkan dilayani oleh banyak koridor yang jumlahnya linier dengan besarnya permintaan perjalanan, besarnya intensitas penduduk di masing-masing wilayah terkait, interaksi dari beragam jenis aktivitas kota, prasarana eksisting, disamping karakteristik dari para pelaku perjalanan (O/D, desire lines, etc), foreseeable future developments, dan last but not least, arah pengembangan kota sebagaimana diamanatkan pada RUTR. Koneksi timur-barat setidaknya akan terlayani oleh 12 koridor, dan apabila kesamaan visi dan kordinasi dengan pemda kota penyangga DKI telah semakin baik, koridor-koridor radial ini pada gilirannya dapat diekspansi sampai menyentuh jantung-jantung kota penyangga Bodetabekjur yang sesungguhnya merupakan satu kesatuan kawasan aglomerasi dan konurbasi megapolitan.

Jalur-jalur sisanya (yang justru jumlahnya mayoritas) diperuntukkan guna memberikan perkuatan yang masif bagi daya dukung mobilitas dan aksesibilitas area pusat kota, yang sama-sama kita ketahui, saat ini memiliki kapasitas dukungan infrastruktur jalan raya yang terbatas dan sulit untuk dikembangkan sehubungan dengan tingginya intensitas area yang sudah terbangun (built up area) dan terbatasnya lahan yang tersedia, sementara mobilitas perjalanan penduduk justru terkonsentrasi di wilayah ini. Jalur lingkar monorel (green line) kelihatannya merupakan salah satu diantara jalur-jalur yang ditujukan sebagai upaya perkuatan terhadap aksesibilitas dan mobilitas pusat kota.

Berikut ini link dari Peta Pengembangan Angkutan Massal DKI Jakarta:
http://www.suaratransjakarta.org/files/upload/blog/07/10/peta-angkutan-m...

Terlihat juga bahwa konfigurasi jaringan tidak semata-mata menerapkan sistem radial dan grid saja, melainkan juga mengadopsi konsep lingkar (ring/loop). Jalur-jalur lingkar ini dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan melalui upaya minimasi terhadap jumlah transfer yang harus dilakukan oleh para penumpang, dan terutama guna mengurangi beban (loading) tinggi yang pada umumnya dialami oleh jalur-jalur yang berada di area pusat kota. Sedikit ilustrasi, absennya koridor lingkar pada jaringan Tokyo Subway, misalnya, telah mengakibatkan beban yang sangat signifikan pada segmen-segmen subway lines yang berada di area pusat kota (Shinjuku, Ginza, dll), bahkan kapasitas subway yang begitu besar disana sudah tidak lagi mampu menampung arus penumpangnya, sehingga para penumpang bahkan harus dipaksa dorong masuk oleh para petugas agar pintu kereta bisa tertutup. (funny video untuk crowded subway di Jepang bisa di download di internet, salah satunya di ww.guzer.com).

Pengamatan saya ketika sempat singgah disana menyimpulkan bahwa begitu banyak perjalanan orang yang terpaksa menggunakan segmen-segmen subway di pusat kota (meskipun mereka tidak bertujuan ke area tersebut) semata-mata agar mereka dapat melakukan transfer ke jalur-jalur lain sesuai tujuannya. Beban yang tidak perlu ini sesungguhnya bisa direduksi secara signifikan dengan menerapkan sistem jalur lingkar (loop line), seperti halnya yang diterapkan pada Seoul Subway. Dengan tingkat konurbasi dan jumlah penduduk yang hampir sama dengan Tokyo, kota Seoul mengalami kondisi yang jauh lebih baik dalam hal kemacetan lalu lintas dan kepadatan di system subway mereka.

Kembali ke konteks PTM, koridor lingkar terdalam tampaknya diharapkan bisa dilayani oleh railway loop line, khususnya apabila integrasi kedua sistem tersebut nantinya sudah dapat berjalan dengan baik. Seperti halnya konfigurasi jaringan yang diterapkan di Sydney-Aussie atau KL-Malaysia, monorel lingkar green line diharapkan dapat melayani mobilitas dan interaksi aktivitas di area business segitiga emas DKI. Pada gilirannya, setelah koridor busway "Pluit - Tanjung Priok" nantinya telah terbangun, maka sistem lingkar tengah akan dapat terlayani oleh sistem busway. Mengingat sifat dan karakteristiknya yang ber-rute panjang, ber-demand sedang, dan tidak terlalu dikaitkan pada basis Asal-Tujuan perjalanan (O/D), maka untuk mewujudkan Koridor lingkar tengah ini, tidak dapat tidak, memerlukan rintisan awal berupa pengembangan koridor yang berbasiskan O/D dan dilakukan secara bertahap, yaitu dengan terlebih dahulu membangun koridor-koridor yang membujur sejajar dengan jalan tol lingkar dalam kota, termasuk koridor Pluit-Tj.Priok, koridor 9 (Pinang Ranti - Pluit) dan koridor 10 (Cililitan - Tj. Priok). Setelah koridor-koridor tersebut terwujud baru diterapkan pola operasional trayek lingkar. Rintisan serupa di masa mendatang dapat diterapkan pada koridor lingkar luar yang berimpit dengan Jalan Tol Lingkar Luar DKI (JORR) yang memiliki rute jauh lebih panjang.

Alokasi koridor (route allocations) pada PTM terutama didasarkan pada prediksi permintaan penumpang disamping aspek lainnya yang memungkinkan diimplementasikanny a sistem tersebut secara realistis (realistically implementable) , termasuk disini minimalisasi kebutuhan pembebasan lahan yang pada umumnya membutuhkan waktu yang panjang. Cost effectiveness dari sistem yang diadopsi tentu merupakan target bidikan yang paling utama, terlebih bagi negara yang tidak makmur seperti Indonesia, oleh karena itu sistem busway telah menjadi primadona terpilih yang mampu menjawab tuntuan ini. Namun demikian, proyek-proyek yang memang sudah komit (Committed Projects), seperti MRT/Subway & Monorel, tentunya juga merupakan faktor yang tidak dapat dihindarkan harus dipertimbangkan oleh para perencana dalam mereka menyusun dan mengevaluasi suatu perencanaan makro. Yang terpenting dari PTM, menurut hemat saya, adalah bahwa alokasi koridor sesuai kebutuhan jaringan transportasi massal yang komprehensif, sustainable dan saling komplementer sudah ditapakkan menjadi pola yang secara nyata akan diimplementasikan, sedangkan opsi dari sistem-sistem angkutan massal yang ada pada prinsipnya dapat saling mensubstitusi satu sama lain (dengan sedikit network adjustment, tentunya). In case, on certain circumstance, Monorail dan Subway gagal dibangun (misalnya karena collapse-nya investor atau karena kesulitan pendanaan pemerintah, atau karena adanya reprioritasi pendanaan pemerintah ke sektor lain yang lebih membutuhkan, maka busway tentu akan sangat mampu menjadi subtitusinya.

Total system capacity dari konfigurasi jaringan PTM as it stands, diharapkan mampu menggulirkan sekitar 9,8 juta perjalanan orang per harinya (hampir 50% dari total trips DKI), dan magnitude ini sesungguhnya dapat ditingkatkan cukup signifikan apabila overtaking lanes, konsep multi bi-articulated bus convoy, bus only flyovers, fully segregated (dedicated) busway telah diterapkan pada semua koridor busway. Total kapasitas sistem juga dapat semakin lebih ditingkatkan lagi apabila jabotabek railway yang ada bisa direvitalisasi dan difungsikan menjadi urban mass transit system yang berkapasitas besar dan terintegrasi baik dengan sistem angkutan massal lainnya. Hal yang terakhir ini tentu memerlukan dibangunnya main integrated station guna memisahkan antara angkutan KA kota dengan angkutan KA antar
kota agar tidak bercampur baur satu sama lain dan kapasitas sistem menjadi tidak terdegradasi seperti yang kini terjadi.

Link-link di bawah ini mungkin juga bermanfaat untuk kita simak:

Arahan Pengembangan Jaringan Jalan Raya DKI:
http://www.suaratransjakarta.org/files/upload/blog/07/10/peta-jalan-raya...

Pengembangan Sistem Jaringan Jalan Tol DKI:
http://www.suaratransjakarta.org/files/upload/blog/07/10/peta-jalan-tol-...

Pengembangan Kebijakan Pendukung (TDM):
http://www.suaratransjakarta.org/files/upload/blog/07/10/peta-kebijakan-...

Tentu terbesit pertanyaan di hati rekan-rekan milis semua setelah melihat link-link diatas, Do we still need new road developments? Jawaban lugasnya adalah "Ya". Why? Karena sebagian masyarakat yang menduduki sisi teratas dari piramida segitiga penduduk berdasarkan golongan pendapatan ("kaum the have") memang nyata-nyata berada di tengah-tengah kita semua, dan mereka-mereka ini tidak akan mungkin untuk dipaksakan mengorbankan privacy & security-nya agar mau menggunakan angkutan umum yang harus berbagi dengan masyarakat banyak. Mereka bahkan rela untuk mengeluarkan dana ratusan juta, bahkan milyaran rupiah demi menjaga privacy & security (juga pride) mereka.

Di sisi supply infrastruktur jalan raya, ironisnya, kondisi DKI masih mengalami defisiensi yang cukup tinggi apabila kita bandingkan standard kota-kota international yang berkisar 15-20% dari luas lahan kota. Dengan total panjang jalan 1.291 km, sebagai contoh, densitas jalan raya di wilayah Jakarta Barat, barulah mencapai 5,9% dari total luas wilayahnya. Mungkin itu pula yang menjadi penyebab sulitnya para perencana PTM untuk menorehkan garis lintasan busway yang dapat menapak dengan baik di wilayah Jakarta Barat, kecuali koridor 3 dan koridor 8. Ironisnya lagi, dengan luas wilayah yang no.2 terkecil setelah Jakarta Pusat, tampaknya Jakarta Barat menaungi jumlah penduduk yang no.2 tertinggi setelah Jakarta Timur dan memiliki kepadatan penduduk yang tertinggi, bahkan dengan tingkat pertumbuhan yang
tertinggi pula. Jakarta Timur, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan sama-sama tidak kalah memprihatinkan juga, dimana proporsi ini secara berurutan hanya mencapai 6,4%, 6,4% dan 7,8% dari luas wilayahnya masing-masing. Hanya Jakarta Pusat-lah yang relatif jauh lebih baik dan mampu membukukan posisinya pada angka 14,1%, namun angka inipun tampaknya sulit ditingkatkan karena terbatasnya lahan sehubungan dengan tingginya intensitas built up area. Dengan demikian pengembangan jaringan jalan tetap masih diperlukan, sepanjang visinya jelas, yaitu:

  1. Untuk melayani golongan teratas segitiga piramida pendapatan, dan
  2. Dan untuk mengembangkan jaringan busway di masa mendatang.

Guna menjamin bahwa hanya golongan "the have" ini saja yang nantinya akan menggunakan jalan raya dengan kendaraan mewahnya di jam-jam sibuk, maka perlu diterapkan toll charging scheme yang tinggi dan penerapan konsep-konsep TDM, termasuk ERP, biaya parkir tinggi, pajak progresif, dll. Revenue yang diperoleh dari penerapan TDM ini bisa digunakan untuk melakukan cross-subsidy terhadap busway, sehingga masyarakat golongan menengah kebawah akan memperoleh pelayanan yang juga prima, namun dengan tarif yang terjangkau (murah), dan cukup menyimpan kendaraan pribadinya digarasi rumah pada hari-hari sibuk. Pada hari libur dan kondisi lalu lintas yang ringan, tentu mereka tetap memperoleh kesempatan untuk menikmati kendaraan pribadinya. Dengan demikian pemerintah akan berdiri diatas semua golongan masyarakat, tanpa kecuali.

Sebelas tahun yang lalu, Studi berskala besar, Jakarta Urban Transport Short Term Improvement (JUTSI) 1996, mengindikasikan hal yang serupa diatas, dimana jaringan busway masa datang diharapkan dapat mencakup puluhan koridor dengan total panjang sekurang2nya 325 km. Pengembangan koridor-koridor ini perlu diawali terlebih dahulu dengan pengembangan jaringan infrastruktur jalan yang cukup masif karena minimnya kondisi prasarana eksisting.

Insya Allah uraian-uraian diatas bermanfaat untuk kita semua. Sekali lagi Minal Aidin Wal Fa Idzin.

Salam - Deddy Arief

Komentar

Avatar david_chyn

Polah Pola Transpotasi Makro Jakarta

Cat : Posting saya yang ditanggapi oleh pak Deddy. (dc)

Polah Pola Transpotasi Makro Jakarta
Suatu pola seharusnya menunjuk kepada suatu kesamaan alur yang bisa dirasakan dan dapat dicerna pula keterkaitannya satu dengan yang lainnya oleh nalar kita. Suatu pola semestinya juga merupakan suatu rencana atau suatu cetak biru yang mudah dimengerti maksud dan tujuannya. Suatu pola seharusnya menjadi dasar dan pedoman bagi semua pihak yang berkepentingan dalam menyusun rencananya maupun saat pewujudannya. Sebagai contoh, beberapa pola bilangan:
1,3,5,7,9,..,… bilangan ganjil lebih yang lebih besar dari 0, selisih antar bilangan 2
1,2,3,5,7,11,..,... bilangan prima
1,4,9,16,25,36,..,... bilangan kwadrat
1,2,4,7,11,16,22,..,... selisih antar kedua bilangannya bertingkat (1,2,3,4, etc)
Terlihat bagaimanapun samarnya semua contoh deret bilangan di atas, bilangan berikutnya tetap dapat di tebak karena deret bilangan tersebut mempunyai pola yang dapat diikuti oleh nalar. (Walau sebenarnya ada juga pola bilangan acak).
Kembali ke laptop, eh, ke Pola Transpotasi Makro Jakarta kita. PTM-J, tampaknya disusun berdasarkan moda transpotasi yang sudah ada, yang coba digabung-gabungkan dan ditambah (eg. Monorail, Waterway etc) dan dengan mengubah bentuk moda transpotasi bus menjadi BRT. Menurut saya, PTM-J ini tampaknya di plot di atas meja dengan data yang sangat minim. Tidak saja minim sinkronisasi dengan RUTR, tertapi juga minim koordinasi dengan pembangunan sarana transportasi itu sendiri, jalanan. Bisa saja para perencana berdalih bahwa sarana transportasi jalanan adalah di luar lingkup rencana PTM-J, tapi ini akan menimbulkan pertanyaan akan kehandalan hasil perencanaannya. Mari kita lihat kasus pemilihan beberapa koridor.
Koridor I, sebagai koridor perintis tidaklah terlalu buruk, jalurnya relatif lurus dan bebas hambatan. Kepadatan penumpangnya pada suatu saat relatif seimbang untuk kedua arahnya. Koridor II dan koridor III, sebagian jalurnya bersatu dengan jalur umum. Bagaimana TiJe dapat mempertahankan ke-konsisten-an headaway-nya?. Bus reguler yang bersinggungan dengan buswaypun terpaksa tetap dipertahankan (eg. PAC 08). Koridor IV s/d koridor VII tampaknya juga dipaksakan routenya. Koridor IV harus melintasi kekusutan Pasar Pulogadung; koridor V harus menggali beberapa kolong rel kereta untuk mendapatkan top clearance yang aman; koridor VI harus bersilangan jalur kereta api yang sibuk di Jl Madiun; koridor VII harus berebut jalur dengan kendaraan reguler dan pribadi, bahkan dengan pejalan kaki di KramatJati, mengapa tidak sekalian menyusuri Jl Dewi Sartika? etc.
Koridor X, ya saat ini saya hanya menyoroti koridor X karena saya sering menyusuri jalan dibawah tol Cawang-Tanjung Priok ini. Jalur ini menurut saya, tidak sejalan dengan pola transportasi makro walaupun dimasukkan di dalam PTM-J. Mengapa? Karena pada jalur ini tidak banyak perumahan pemilik mobil pribadi (Cipinang, Sunter). Walau di jalur ini ada beberapa Perguruan Tinggi, tapi menurut pengamatan saya sebagian besar mereka adalah pengguna sepedamotor. Perkiraan saya, koridor ini akan sekedar menjadi jalur komunter, yang pada pagi hari akan ada kepadatan pengguna yang menuju arah utara dan sebaliknya pada sore hari kepadatan akan terjadi menuju arah ke selatan, sehingga pada saat yang sama arus kedua arahnya tidak seimbang. Bila tidak disiasati dengan baik , ini akan menimbulkan ketidak effisienan penggunaan kapasitas bus. Hal lain yang mengganggu pikiran saya, dalam kaitannya dengan PTM-J adalah, jalur ini sejajar dengan flyover di atasnya, eg. perempatan Pramuka-Pemuda, perempatan CempakaMas dan perempatan Yos Sudarso dengan KelapaGading-Sunter (ket: sedang dibangun). Dengan adanya flyover di perempatan tersebut maka dapat diperkirakan bahwa arah yang memotong di bawah flyover akan mendapat prioritas yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang sejajar dengannya. Dengan kata lain jalur yang sejajar (baca: termasuk busway) akan mendapat prioritas yang lebih rendah, sehingga pada perempatan ini dipastikan TiJe akan mempunyai waktu tunggu yang cukup lama.
Saya tidak dapat secara jelas menangkap alur pikiran yang mendasari koridor ini, tapi menutup catatan ini masih menggantung harapan saya agar koridor X ( dan system busway) tidak terkubur oleh jalannya waktu seperti Jalan Jakarta Bypass yang disusurinya.
Salam (101307dc)

Kirim komentar

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p> <br /> <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
Maaf, Anda manusia atau spam bot?
Jika Anda manusia, tolong ketikkan kode yang muncul di bawah ini (case sensitive)
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.