Pembangunan Busway Koridor XI-XV Terancam Batal
Jum, 10/26/2007 - 15:02 — yogi
Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melanjutkan pembangunan busway koridor XI-XV nampaknya akan menuai kendala. Sebab, pada tahun anggaran 2008 mendatang, sebagian besar anggota dewan lebih menghendaki melakukan kajian atas pembangunan dan pengoperasian busway selama ini. Apakah program itu sudah mampu mengurangi kemacetan atau justru sebaliknya? dan bukan untuk menyetujui melanjutkan pembangunan busway.
Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Nakoem AR mengatakan, sebaiknya pihak eksekutif tidak tergesa-gesa untuk melanjutkan pembangunan busway koridor XI-XV. Sebab, dari sepuluh koridor busway yang telah disetujui oleh DPRD Jakarta belum membuahkan hasil maksimal. Malah kecenderungannya justru sebaliknya, yaitu menambah kemacetan di beberapa ruas jalan yang dilalui jalur busway itu. Selain itu, pembangunan busway juga telah meleset dari nilai filosofisnya yang bertujuan menarik minat para pengguna kendaraan pribadi agar pindah menggunakan angkutan umum.
"Dalam rapat pimpinan nanti kita akan melihat apa-apa saja yang diprogramkan ke depan. Tapi kalau untuk melanjutkan pembangunan busway koridor XI-XV kita masih kurang setuju. Kita sarankan sepuluh koridor yang sudah ada itu dikaji lagi, apa sudah efektif atau belum? Selama ini apakah yang menggunakan kendaraan pribadi itu sudah banyak yang pindah?" katanya, Kamis (25/10).
Hal senada juga diungkapkan Oleh Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Ahmadi Hasan Ishak. Ia mengatakan, sebaiknya Pemprov DKI Jakarta memberikan laporan hasil kinerja busway selama ini. Apakah tujuh koridor busway itu telah mampu mengurangi kemacetan di wilayah DKI Jakarta?
"Kalau belum mampu mengurangi kemacetan di Jakarta, kenapa harus dilanjutkan? ya kita harus tinjau ulang pembangunan sepuluh koridor itu," tandasnya.
Selain itu, Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Selamat Nurdin juga mengatakan, pihaknya tidak akan menyetujui program lanjutan pembangunan busway koridor XI-XV. Sebab, sampai saat ini pembangunan sepuluh koridor tersebut belum membuahkan hasil.
"Harus ditinjau ulang kebijakan busway itu, selama ini kan belum bisa menyelesaikan kemacetan. Itu program dipaksakan supaya Pemprov DKI kelihatan ada kerjanya. Kalau perlu kita stop pembangunan Koridor XI-XV," tukasnya.
Sumber: http://www.beritajakarta.com/V_Ind/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=26269
- 1518 kali dibaca
Komentar
Jum, 11/02/2007 - 20:05 — Guest (tidak terverifikasi)

Begini nih kalau orang punya
Begini nih kalau orang punya posisi tapi nggak punya otak
Keberhasilan Transjakarta tidak bisa diukur dari berapa banyak orang yang pindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Tujuan dari Transjakarta itu kan memberikan fasilitas transportasi umum yang aman, nyaman dan cepat. Apakah pengendara kendaraan pribadi akan pindah atau tidak itu urusan mereka. Kalau mereka mau pindah bagus... Tapi kalau tidak, silakan saja bermacet-macet ria.
Program ini harus diteruskan agar Jakarta bisa sejajar dengan kota-kota lainnya.
Jum, 11/09/2007 - 11:12 — Robin (tidak terverifikasi)

Comentar di atas comentar
nah masalahnya jgn di lihat dr sebelah sisinya saja..
mungkin anda sebagai pengguna busway akan bahagia karena byk trayek2 busway baru
namun bagi pemilik kendaraan pribadi, ntah itu mobil atau motor apa mereka bahagia?
jelas tidak karena macetnya sudah menjadi2, lalu sebaiknya mereka bagaimana?
apa mereka harus beralih ke busway? lalu siapa yg mau mengganti kerugian mereka yg sudah membeli kendaraan bermotor tsb? anda? pemerintah?
saya sendiri cmn pengguna motor, tp bagi saya motor tsb jauh lebih murah ketimbang saya naik busway, 2-3hr hanya memerlukan ongkos sekitar 10rb untuk daerah teluk gong- gatot subroto
kalo misalkan naik busway? anda bisa hitung sendiri brp biaya yg harus saya keluarkan
di samping daerah rumah2 byk yg jauh dr koridor busway, otomatis mereka harus naik angkutan umum lagi..
menurut saya busway memang benar, selama dia bisa mengurangi kendaraan dlm jkt
tp ga semudah itu untuk suruh org jual mobil dan beralih ke busway
dan lagi sblm ngurusin mobil pribadi, mending ngurusin angkot2 tukang ngetem dulu deh
Sen, 11/12/2007 - 15:47 — Guest (tidak terverifikasi)

Komentar atas "Komentar di atas komentar"
Di luar negeri (Singapura, Jepang, dan Eropa), orang punya mobil tidak berarti selalu mangandalkan mobil tersebut dalam kegiatan sehari - hari. Biasanya mobil tersebut lebih banyak digunakan untuk wisata ketika akhir pekan saja. Jadi pengguna mobil ya memang mesti pindah ke busway kalau mau lebih murah dan nyaman. Pengguna motor juga demikian, sekarang menggunakan motor masih lebih murah karena 1) Tarif parkir mobil dan motor belum sesuai dengan seharusnya 2) harga BBM masih disubsidi meski sedikit. Harga beli mobil dan motor juga masih murah karena pajaknya masih terhitung murah.
Namun demikian, pernyataan anggota Dewan harus dilihat sisi positifnya juga. Pemda DKI belum melakukan usaha serius dalam merangsang pindahnya pengguna mobil ke busway. Menurut saya paling tidak dua hal berikut harus dilakukan:
- Tarif parkir mobil dan motor belum dinaikkan sesuai dengan seharusnya, yaitu memperhitungkan harga sebenarnya kalau sebuah lahan parkir digunakan untuk yang lain (misalnya sebagai ruang kantor atau dagang). Seperti di Jepang, sekitar 15 tahun ongkos parkir per jam sekitar 60.000 rupiah.
- Pajak mobil dan motor belum sesuai dengan seharusnya, yaitu memperhitungkan ongkos pemeliharaan jalan yang diperuntukkan buat mobil dan motor tersebut, ditambah ongkos pengendalian polusi yang diakibatkan oleh mobil dan motor tersebut. Tidak adil bagi rakyat kecil jika pemeliharaan jalan dan pengendalian polusi tersebut menggunakan dana rakyat padahal mereka hanya menggunakan jalur jalan kaki dan jalur angkutan umum saja.
Seperti di jepang, harga "on the road" mobil dan motor mereka mahal bukan karena dumping, tapi karena pajaknya.
Kedua kebijakan akan secara drastis menurunkan jumlah pengguna mobil pribadi, dan pada gilirannya akan menurunkan tingkat kemacetan di jalan.
Adapun mengenai ketersediaan parkir untuk memungkinkan "Park and Ride", kelayakan angkutan feeder, dan sejenisnya, itu bisa secara bertahap diperbaiki.
Kam, 11/15/2007 - 09:00 — Peter
Nah ini dia ! sikap Dewan mencerminkan "visi"-nya
Nah ini dia, sikap Dewan yang mengatakan "belum membuahkan hasil", "tidak tercapai filosofi" mencerminkan sampai mana cara berpikir mereka.
Mengapa saya katakan begitu ? (saya rasa teman-teman di komunitas ini setuju)
1. Jelas-jelas transportasi harus integrated, baru bisa terlihat hasilnya. apa orang bisa naik satu moda transportasi dari asal ke tujuan ?
2. Solusi kemacetan tidak bisa instan (sudah terlanjur tidak terencana dengan baik selama tahunan atau puluhan tahun). Mereka kan maunya yang instan-instan dengan pansus-nya.
Namun ada yang kurang dari Pemprov, seharusnya sebelum proyek busway berjalan, diumumkan/dibuat/dipaparkan rencana, target pencapaian, beikur time-frame-nya.
Mungkin teman-teman di komunitas bisa menambahkan. cape rasanya mendengarkan komentar mereka..


