Tiket Manual

Cat: Posting ulang sebagai bahan masukkan untuk ITDP (dc)

Empat Koridor Busway Siap Beroperasi

----cut ----
Sementara dari sisi tiket, terjadi perubahan yang mencolok. Empat koridor baru busway nantinya menggunakan tiket manual, seperti karcis bioskop. Bukan berbentuk karcis elektronik seperti di busway Koridor I, II dan III. Karcis tersebut, terdiri dari tiga lembar yang dapat disobek. Satu lembar untuk petugas karcis, satu dimasukkan penumpang ke dalam kotak tiket, dan satunya lagi untuk dibawa penumpang.

---- cut ----
Suara Pembaruan (01/25/07).Ketidaksiapan ticketing ini dari satu sisi merupakan suatu kegagalan dari suatu perencanan. Tapi saya mencoba untuk membalikkannya menjadi suatu kesempatan. Usulan saya ini gratis, tidak perlu consultancy fee (tapi kalau diberi ya, terimakasih, he he he).Penggunaan ticket manual ini dapat menjadi sarana untuk mendapatkan data trafic OD yang sangat penting untuk perencanaan alokasi sumber daya TiJe. Inilah pemikiran saya :

Asumsi dasar saya, karcis manual (saya sebut saja sebagai ’karcis’ untuk membedakan dengan ticket electronic seperti yang dipakai untuk kor I s/d kor III) yang terdiri dari tiga bagian tersebut menggunakan nomer seri/urut sebagai bagian dari kontrol. Bila tidak ada maka harus dilengkapi dengan nomer seri. Kemudian usulan saya:

  1. Usulan saya adalah setiap koridor baru menggunakan warna karcis yang berbeda warna dan/atau
  2. Nomer seri karcis tersebut unik eg. K4-xxxxxxxxx untuk kor IV. x adalah nomor seri.
  3. Waktu karcis ini didistribusikan ke halte-halte di koridor baru, perlu dicatat nomer serinya sehingga dapat ditelusuri distibusi halte asal karcis tersebut.
  4. Disediakan kotak pengumpul sobekan karcis pada pintu masuk setiap halte baru (saja) dan kotak pengumpul pada pintu keluar semua halte (termasuk halte kor I s/d kor III)
  5. Potongan pertama karcis tersebut dimasukkan pada kotak pengumpul yang ada di pintu masuk halte baru. Kotak potongan pertama ini dijaga oleh supervisor barrier. Dia juga bertugas memberi batas karcis yang dimasukkan kedalam kotak tersebut tiap jamnya. sehingga dapat diperoleh data distribusi pengguna yang boarding di halte tersebut tiap jamnya.
  6. Potongan ke dua karcis manual tersebut dimasukkan ke kotak yang tersedia di pintu keluar semua halte (baik halte baru maupun halte lama). Kotak potongan ke dua inipun dijaga oleh supervisor di halte tersebut dan dipisahkan berdasarkan jamnya. Dengan demikian dapat diperoleh data asal (O) pengguna koridor baru yang alighting di setiap halte, dan juga distribusi tiap jamnya.
  7. Data dari potongan pertama dan potongan ke dua dikonsolidasikan di kantor BLUTJ untuk mendapatkan gambaran tentang pergerakan pengguna TiJe yang sangat berguna untuk perencanaan. Proses ini dapat dimanfaatkan juga sebagai sarana kontrol/audit.
  8. Potongan ke tiga tetap disimpan oleh pengguna sebagai bukti pembelian karcis.

    Bagaimana menyakinkan pengguna koridor baru ikut berpartisipasi di dalam system ini?

  9. Kepada para pengguna koridor baru yang memasukkan potongan ke duanya di halte tujuan (D) diberi hadiah dengan mengundi potongan ke dua karcis tersebut setiap periode yang ditentukan (eg. setiap hari/setiap minggu/setiap bulan) dan pemenangnya diberi ticket multitrip sebesar (eg. 10 trip /20 trip/30 trip).
  10. Untuk memulai pengumpulan data ini bisa dimulai kapan saja, asal serentak.
  11. Bila diperlukan pada suatu saat tertentu dapat diterapkan juga pada semua koridor (kor I s/d kor 7), untuk mendapatkan data yang lebih menyeluruh.

Semoga usulan saya ini bermanfaat bagi semua pihak, terutama BLUTJ.

Bagaimana tanggapan pak Bambang dan bang Yos ? Juga dari rekan miliser lain (pak Deddy, bung Manto, Putra, pak Djoko dll).

Salam (012607dc)

Komentar

Avatar Peter

agak merepotkan, ada usul lain

Menurut saya, ide David sangat baik ditinjau dari segi perencanaan dan pengelolaan (utk improvement). Saya setuju dengan tujuan-nya. namun caranya kelihatannya akan menambah banyak tugas bagi pengguna dan pengelola.

beberapa kelemahan yang saya teliti adalah:
1. semua sistem manual, perlu disiplin (metode box per jam). sedangkan kita ketahui bersama, kita ini kurang disiplin
2. walau disiplin, namun kita ini tidak bisa konsisten (hanya disiplin di saat-saat awal, atau saat dijaga)
3. bisa memperlambat arus penumpang dan bus, bagaimana jika tiket utk pintu keluar keselip di kantong (harus merogoh dulu barang 4-5 detik).
4. Tiket bernomor urut. bagaimana dengan distribusi tiket ke setiap halte ? mungkin akan menjadi rumit. (masalah sederhana saja, kadang petugas di lapangan tidak tahu apa yang harus dilakukan)

Saran yang saya pikirkan adalah :
1. optimalkan sistem yang ada sekarang. (sudah ada pintu putar, yang dapat mencatat jumlah orang keluar secara mekanik / elektronik)
2. memang ada kelemahan yaitu tidak tahu si orang yang keluar ini asalnya dari halte mana ? dari koridor mana ?
3. gunakan sistem karcis dimana karcis tidak ditelan pada saat masuk, tetapi keluar lagi. dan karcid ini harus dimasukkan di pintu keluar (lalu ditelan mesin). sistem ini yang diterapkan di MRT Singapura, Hongkong, dll.
4. Sistem no.3 akan dapat mencatat hal-hal seperti yang dimaksud oleh David
5. Peralatan utk no.3 diatas tentunya harus elektronik, dan sudah ada contohnya, seperti yang ada di koridor satu.
6. cara ini akan lebih efektif :
a. traffic lebih cepat dan lancar
b. lebih sederhana
c. tidak merubah kebiasaan penumpang (lebih mudah diterapkan)
d. sistem ini dapat di-integrasi-kan nantinya dengan koridor lain, juga mungkin dengan moda transportasi yang lain (Monorel, Subway)

Semoga usul ini bermanfaat. Mohon tanggapan dan koreksi dari rekan-rekan di org ini. Salam

Avatar david_chyn

hanya sebagai sarana survey

Posting di atas yang saya buat awal tahun ini, bukan merupakan solusi permanen untuk system ticketing, bukan untuk menggantikan syatem elektronik yang sudah ada, tetapi hanya sebagai sarana untuk mendapatkan data OD dengan memanfaatkan keterbatasan yang ada sekarang ini menjadi suatu kesempatan. Pelaksanaannya hanya dalam kurun waktu tertentu saja. usulan saya adalah selama satu bulan penuh sehingga bisa diketahui pola distribusi/variasinya (pagi, siang, sore,malam, hari kerja, hari libur, tanggal gajian etc).

Pengguna tidak diwajibkan untuk menyerahkan potongan karcis pada saat keluar. Pengguna hanya dirangsang untuk ikut partisipasi dalam surver ini melalui insentive/bonus undian.

Nomer seri karcis sekarangpun sudah ada. Ini dipakai untuk audit. Nomer ini yang dicatat saat karcis didistribusikan ke halte bukan oleh petugas lapangan tapi oleh pusat distribusi tiket.

Hasil potongan karcis tersebut dikumpulkan dan dikosolidasi dan diolah di pusat pengolahan informasi.

Seperti yang pernah dibahas juga bahwa retained ticket lebih unggul, pengadaanya tertunda sampai saat ini.

Salam (dc)

Kirim komentar

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p> <br /> <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
Maaf, Anda manusia atau spam bot?
Jika Anda manusia, tolong ketikkan kode yang muncul di bawah ini (case sensitive)
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.