Mess up with mixed traffic

Saya tidak tahu mulainya dari mana, tetapi dugaan saya, kekacauan ini berasal dari salah tafsir dalam membaca situasi. Dua bulan lalu pembangunan lajur koridor baru demikian menggebu. Apakah ini karena memang demikian rencana dan strateginya dengan membangun semua jalur baru secara serempak, ataukah hanya sekedar untuk mengejar tutup anggaran pertengahan Desember ini. (baca: Gagap – Latah).

Tapi yang sudah dapat diduga adalah dampak dari pembangunan lajur baru ini. Bila saja pembangunan lajur-lajur ini direncanakan dan dilaksanakan dengan baik, tentunya akan membuat pengaruh yang positif bagi pembangunan budaya bertransportasi di ibukota kita ini. Walau  pembangunan dilaksanakan secara serentak, bila masyarakat sudah menerima informasi sebelumnya, tentunya mereka akan bisa mempersiapkan diri dengan baik. Misalnya: menunda rencana membeli kendaraan pribadi, atau rela menyimpan kendaraan pribadinya di rumah dan berlatih menggunakan kendaraan umum, atau bahkan akan berpartisipasi membantu kelancaran pembangunan jalur baru tersebut dengan harapan semoga cepat selesai dan segera dapat memanfaatkan pelayanan transportasi baru yang lebih baik.

Tapi tampaknya perencanaan dan pelaksanaannya jauh dari kesan baik. Ini dapat dilihat, bila sekalipun jalur ini siap dan diserah terimakan minggu depan, belum ada TiJe yang bisa melayaninya, belum ada bus baru yang dipesan, belum ada operator yang ditunjuk, belum ada konsorsium yang dibentuk dan banyak lagi yang belum dan belum. Situasi ini menyebabkan kepanikan. Ketika keresahan masyarakat tidak bisa dijawab dan ketika panggilan ’menghadap’ diterima, keputusan yang diambilpun merupakan cermin sebauah  kepanikan.

Panik karena opini yang terbentuk adalah pembangunan lajur baru busway menyebabkan kemacetan, dibuatlah keputusan yang jauh dari bijaksana. Kendaraan non busway boleh menggunakan jalur khusus tersebut. Pembolehan ini bukan merupakan pemecahan masalah tapi menimbulkan masalah. (Bandingkan dengan slogan Perum Penggadaian: ’Memecahkan masalah tanpa masalah’.).  Kemacetan di jalanan tidak melulu karena pembangunan jalur busway di jalanan tersebut, tapi karena banyak faktor (baca: Jakarta Bypass). Lihat saja kemacetan suatu jalur karena ada mobil mogok, dapat menyebabkan kemacetan juga di jalur yang berlawanan.

Pada awalnya telihat bahwa dengan pembolehan ini jalur terlihat relatif lancar. Itupun karena saat itu dilancarkan operasi Jala yang didukung oleh ribuan personil Polda dan personil Dishub dari pagi sampai petang. Tapi saat ini kemacetan tetap terjadi. Dan yang lebih parah lagi akibat pembolehan tersebut; istilah kerennya ’mix traffic’, menjadikan jalur busway menjadi ’mess traffic’. Coba bayangkan, bus TiJe bercampur dengan mobil pribadi, bus, sepedamotor etc. sehingga tidak dapat memelihara, apalagi mempebaiki, headway. Waktu tempuh molor dari 40 menit menjadi 90 menit. Pemakaian BBG operator jadi bertambah. Dan yang lebih parah adalah ketidakpastian akan waktu tempuh. Ini sangat mengganggu perencanaan perjalanan. Belum lagi saat ada metromini yang mogok dekat halte TiJe (di halte Pasar Rumput beberapa hari lalu) sehingga pengguna harus menunggu cukup lama. Bagi yang di halte, bisa saja membatalkan perjalanannya (tanpa ganti rugi) tapi bagaimana yang ada di atas TiJe?  Dengan ’mess traffic’ Rambu lalin yang melarang kendaraan non-busway melintasi jalur khusus ini menjadikan Aturan tesebut kehilangan artinya, kehilangan fungsinya. Dan masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap kepastian hukum. Dengan pembolehan ini, budaya baru bertransportasi yang dengan sudah payah dirintis di negeri ini seolah hilang dengan sekejap. Dengan pembolehan ini budaya kita mudur lagi beberapa tahun dan kita akan semakin tertinggal dengan negara-negara tetangga kita. Bila memang tidak ada usaha yang sistimatis yang sengaja merusak usaha pembentukan budaya baru bertransportasi ini, saya sangat mengharapkan agar jalur kembalikan peruntukannya  khusus untuk busway. Don’t mess up with mixed traffic. Salam (120807dc)

Komentar

Avatar oewe01

Capek dech...

Untuk menuju ke kantor saya menggunakan Busway koridor 6. Dalam minggu ini, hari Senin dan Selasa sepanjang jalan buncit mampang sudah ada antrian panjang baik di jalur regular maupun busway. Pada hari Senin, busway sudah tersedat selepas halte buncit indah karena banyak mobil pribadi dan bus regular masuk ke jalur busway. Hari Selasa, ternyata makin parah. Antrian sudah tampak mulai dari lampu merah Republika. Sehingga busway-pun harus menunggu untuk menyeberang dan masuk ke jalurnya.

Dengan diperbolehkannya mobil pribadi & bus regular masuk ke jalur busway ini bukan solusi untuk mengatasi kemacetan yang sudah ada. Kondisi sekarang di kedua jalur (regular & busway) tetap mengalami kemacetan. Sangat disayangkan kalau proyek busway yang sudah berjalan tidak sesuai dengan tujuan awal.

Pak Gubernur yang terhormat mohon perhatiannya. Mohon keputusan untuk mengijinkan kendaraan non Transjakarta untuk mengunakan jalur Busway supaya dicabut. Juga memohon tidak sungkan apalagi gengsi untuk tetap menerusnya rencana dari Gubernur sebelumnya.

Terima kasih.

Avatar Zacky Abdullah

Emang Busway punya siapa sih

Hari Jumat minggu yang lalu saya mau menghadiri kondangan di Cipinang Muara pada jam 19.00. Agar cukup waktu saya keluar dari kantor yang berlokasi di depan Sta Gambir sekitar jam 17.30 dan memilih moda busway agar nyaman dan sedikit lebih cepat (maklum pakai baju batik je), maaf saya tidak tahu koridor berapa yang disamping belakang sta Gambir yang jurusan Pulogadung lewat Tugu Tani trus Senen. Rencananya di halte Senen ganti jalur / koridor yang jurusan Kampung Melayu/Cililitan.

Singkat cerita, naiklah saya busway urutan kedatangan ke-3 setelah pada kedatangan 2 busway sebelumnya diminta untuk jangan naik dulu dan naik busway belakangnya, lumayan ternyata sabar ada manfaatnya...dapat busway yg relatif kosong. Selepas halte lewat lampu merah depan PLN belok kanan...jregg...kemacetan panjang sudah meng-ular sampai lampu merah tugu tani, ok no problem memang jam pulang kantor. Kondisi ini sampai di lampu merah Senen sebelum halte. Pas busway mau melaju perlahan di jalurnya, mendadak nyelonong motor dari sisi kanan badan bus....ciiittt.....ahhh hampir saja dia tergenjet. Pengendara motor itu menggedor-gedor badan busway, sekejab kemudian petugas yang dipintu minta dibukakan pintu kepada sopir dan trus meneriaki / membentak pengendara motor tsb, terjadi salaing bentak sebentar. Busway melanjutkan jalannya....tapi di tengah perempatan keburu kejebak oleh arus kendaraan dari kanan depan...seru...busway dujalankan ndut-ndutan untuk lepas dari kemelut ini menuju halte.

Sesuai rencana saya turun di halte Senen ini, hupp...musti melangkah lebar dan setengah meloncat dari bibir pintu busway ke tramp halte, wah bagaimana orang tua atau yang pakai "jarek" (batik yang dililitkan, pada pakaian tradisional wanita jawa)...so pasti kemungkinan besar nyungsep. Ternyata setelah kaki menginjak lantai halte saya berhadapan dengan barisan orang2 yang mau naik ke busway, dan ini merupakan antrian panjang dan padat yang meng-ular sampai di atas tangga ke-2 menutup seluruh akses untuk saya dan beberapa orang dibelakang yang mau ke halte di atrium...konyolnya saya ada yg teriak "cepetan pak..!" cepetan bagaimana? wong di depan padet banget nyaris ga tertembus.

Akhirnya sampailah saya di halte atrium, dan saya masuk ke antrian di tramp menunggu untuk naik busway yang akan membawa saya ke Kampung Melayu. Sempat ada keraguan ngantrinya di trampt ini atau yang di sebelah, yang sama-sama banyak orang yang antri. Oleh orang sebelah saya dan beberapa yang lain dikatakan "yang ini untuk yg ke Kp Melayu mas, yang itu untuk yang langsung ke Cililitan/Kp Rambutan". Tunggu punya tunggu, kesemrawutan di lampu merah membuat kendaraan saling menghalangi.

Nah ini serunya. Datanglah busway kosong merapat di trampt kosong sebelum trampt tempat saya ngantri, disitu ada beberapa orang tidak berseragam, yang satu wanita memberikan semacam kertas dangan tatakan kayu ke pengemudi busway lewat jendela bus, setelah sejenak di tangan pengemudi trus dikembalikan lagi ke wanita tadi, dan oleh wanita ini di serahkan kepada seorang pria yang duduk di kursi (di trampt...?) setelah itu busway bergerak maju sedikit dan membuka pintunya, kemudian seorang wanita berpakaian biasa (bukan seragam) dipersilahkan naik dan busway bergerak ke arah trampt kami.

Pada saat itulah saya menegur dengan keras "mereka" yang menaikkan penumpang tidak pada tempatnya tersebut...ya saya benar2 marah dan kecewa dengan gaya dan tingkah polah mereka yang seenaknya saja seperti itu tanpa menghargai calon penumpang yang sudah tertib mengantri, teguran saya diikuti beberapa orang yang membentak ke arah mereka, tapi apa yang terjadi...? mereka malah dengan setengah koor mengeluarkan suara HUUUHHHH...!!! ini tambah menyulut kemarahan kami-kami, trus salah satu (yang tampil seperti leadernya) mengatakan sudah-sudah, silahkan naik saja..!!! Karena busway sudah di depan kami, kamipun segera mengalir masuk sambil ngedumel. Yang ada dalam benak kami....EMANGNYA BUSWAY PUNYA SIAPA SIH..?

Akhirul kalam, saya sampai di cipinang jam 20.05

Salam

Avatar yogi

Mungkin wanita tersebut

Mungkin wanita tersebut adalah orang BLU TransJakarta, orang BLU memang tidak mengenakan seragam pak. Atau mungkin wanita tersebut adalah wanita hamil yang harus didahulukan untuk menaiki bus :).

 

 

Kirim komentar

  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <p> <br /> <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

CAPTCHA
Maaf, Anda manusia atau spam bot?
Jika Anda manusia, tolong ketikkan kode yang muncul di bawah ini (case sensitive)
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.