Keliru Konsep, Jakarta Terus Macet - Jakarta Bypass (baca: bebas) (repost)
Min, 12/30/2007 - 09:33 — david_chyn
Kesemrawutan lalin di Jakarta tampaknya bukan monopoli saat ini. Pada awal tahun enam puluhan stasiun Jatinegara, pasar Senen, Glodok adalah beberapa titik kemacetan. Saat itu opelet (seperti opeletnya si Doel) adalah raja jalanan. Naik opelet dari Jatinegara ke Senen atau dari Senen ke Kota terasa sangat jauh dan lama. Sepanjang perjalanan juga berisik karena jalanan tidak terlalu mulus dan bodi mobil, yang jendelanya terbuka penuh, terbuat dari kayu dan kaleng. Kalau hari sedang hujan keadaan menjadi lebih parah lagi; di dalam mobil pengap dan gelap, karena daun jendelanya dibuat dari papan kayu.
Untuk mengurangi kepadatan saat itu dibangun jalan Jakarta Bypass antara Cawang sampai perempatan Pramuka (kemudian di teruskan ke perempatan Cempaka Putih). Jalan tersebut lebar dan mulus sekali; sedemikian mulusnya sehingga sopir opelet saat itu percaya seolah jalan itu diberi lapisan karet. Di jalan tersebut, opelet yang berisik dapat meluncur dengan cepat dan tenang. Jalan Jakarta Bypass, benar-benar menjadikan Jakarta Bebas. Bebas berisik, bebas lubang, bebas macet. Jalan yang paling ideal saat itu. Tapi keadaan itu hanya dapat dinikmat beberapa belas tahun saja. Kepadatan jalan Bypass lebih parah dibandingkan sebelum dibangunnya jalan tersebut.
Akhir tahun tujuh puluhan (1978) dibangun jalan bebas hambatan Jakarta(Cawang) – Cibinong. Kemudian disusul ruas dalam kota Cawang – Tomang. Suatu jalan bebas hambatan, walaupun kita harus membayar untuk melintasinya. Pada awalnya jalan tersebut benar-benar bebas hambatan. Waktu tempuh untuk melintasi jalan-jalan tersebut sangat fantastis. Tapi jalan-jalan ini secara pasti segera berubah menjadi jalan berbayar yang tidak selalu bebas hambatan. Malahan saat ini, kepadatan jalan bebas hambatan ini kadang lebih parah dibandingkan jalan arteri di sampingnya.
Melihat phenomena di atas, seorang rekan saya dengan bercanda dengan mengatakan bahwa: kemacetan-kemacetan tersebut terjadi akibat dibangunnya Jakarta Bypass dan jalan toll. Alasan dia, sebelum ada jalan-jalan tersebut, jalanan tidak semacet seperti saat ini. Ini menjadi bahan canda, karena prinsip sebab-akibat.
Busway, dengan jalur khususnya, saat ini juga menjadi andalan untuk sarana transportasi di Jakarta. Waktu tempuh dengan mobil pribadi dari kantor ke rumah (sebelum ada busway) lebih dari 90 menit, sekarang digantikan dengan busway menjadi sekitar 55 menit. Dengan ’this way’ selain penghematan waktu juga kita dapat menghindar dari kepadatan lalin. Hanya sayangnya pada titik titik tertentu jalurnya bukan untuk ’bus wae’ (bhs jawa: bus saja), sehingga harus berebut bahkan harus beradu dengan kendaraan lain (eg: Terminal Pulogadung, Pasar Pulogadung, Ps Kramatjati, sekitar BNN juga terlihat mobil-mobil yang pakrir di jalur busway, etc.). Keadaan ini sangat mengancam keberhasilan busway sebagai bus bebas hambatan. Menurut saya hal-hal seperti ini harus segera dibereskan, koridor semua jalur harus steril. Sebab kalau tidak, nasib busway bakal seperti kasus kedua jalan di atas, macet dan bertambah macet.
Semoga Jakarta Bebas (dari kemacetan) dapat benar-benar terwujud.
Salam (032807 dc)
- Blog david_chyn
- 1569 kali dibaca


